CHASING AURORA
Bab 2 — Partner
Kerja yang Terlalu Sempurna
Ayla punya tiga
aturan ketika bekerja dengan seseorang.
Pertama, jangan
menilai seseorang hanya dari kesan pertama.
Kedua, jangan
pernah percaya orang yang mengatakan, "Saya hanya sebentar" saat
meminta revisi.
Ketiga...
Jangan pernah
memulai hari Senin dengan kopi yang tumpah di baju.
Sayangnya, pagi
itu Ayla melanggar aturan ketiga.
"Bagus."
Ayla menatap noda
kopi di kemeja putihnya.
"Sangat
bagus."
Dia melihat jam.
08.42.
Meeting pertama
dengan tim Aurora pukul 09.00.
Dan dia terlihat
seperti baru kalah perang melawan mesin kopi.
"Kenapa benda
ini membenciku?"
Barista kafe di
bawah kantor hanya tersenyum.
"Mungkin
kopinya punya masalah pribadi, Kak."
Ayla menatap gelas
kopi.
"Masuk akal.
Saya juga punya masalah pribadi dengan kopi ini."
Saat Ayla masuk
ruang meeting, semua orang sudah duduk.
Termasuk Kael.
Tentu saja.
Pria itu terlihat
seperti iklan jam tangan mahal.
Rapi.
Tenang.
Tidak ada noda.
Tidak ada rambut
berantakan.
Tidak ada tanda
bahwa dia pernah mengalami pagi buruk.
Ayla duduk di
sebelahnya.
Kael melihat
bajunya.
Lalu melihat
wajahnya.
"Tumpah?"
Ayla menoleh.
"Selamat pagi
juga."
"Saya hanya
bertanya."
"Dan saya
hanya menjawab dengan sopan."
Kael mengangguk
kecil.
"Itu bukan
jawaban."
Ayla menarik
napas.
"Ya. Kopi
saya menyerang saya."
"Anda
kalah?"
"Untuk
sementara."
Kael diam.
Ayla menunggu.
Lalu sadar.
Dia sedang
menunggu komentar.
Biasanya orang
akan tertawa.
Atau setidaknya
mengatakan sesuatu.
Tapi Kael hanya
berkata:
"Baik."
Ayla mengernyit.
"Baik?"
"Ya."
"Kamu tidak
mau bertanya bagaimana bisa kopi menyerang saya?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena saya
rasa ceritanya panjang."
Ayla menatapnya.
"Wow."
"Apa?"
"Kamu
benar-benar tidak punya rasa penasaran."
Kael membuka
laptopnya.
"Saya
punya."
"Serius?"
"Ya."
"Contohnya?"
Kael melihat noda
kopi di bajunya.
"Saya
penasaran bagaimana seseorang bisa berjalan sambil membawa kopi, membaca email,
dan tersandung meja yang diam."
Ayla terdiam.
"Itu
terdengar seperti hinaan."
"Itu
observasi."
"Semua
hinaanmu diberi nama observasi."
"Lebih
profesional."
Ayla hampir
tertawa.
Hampir.
Meeting dimulai.
Proyek Aurora
ternyata lebih besar dari perkiraan Ayla.
Perusahaan ingin
mengubah sebuah brand lama menjadi sesuatu yang relevan untuk generasi baru.
Tim kreatif ingin
mempertahankan nilai emosional.
Tim bisnis ingin
memastikan keuntungan.
Dan di tengah dua
sisi itu...
Ada Ayla dan Kael.
Dua orang yang
selalu merasa cara mereka paling masuk akal.
"Menurut
saya," kata Ayla, "kita harus memulai dari cerita pelanggan."
Kael melihat
proposalnya.
"Menurut
saya, kita harus memulai dari data pelanggan."
Ayla menoleh.
"Lihat? Kita
sudah kembali ke sini."
"Karena ini
penting."
"Dan cerita
juga penting."
"Data
membantu kita membuat keputusan."
"Dan cerita
membantu orang peduli dengan keputusan itu."
Ruangan kembali
sunyi.
Seorang staf
junior diam-diam melihat ke arah mereka.
Seperti sedang
menonton pertandingan tenis.
Kepala menoleh ke
kanan.
Lalu ke kiri.
Ke kanan.
Ke kiri.
Kael akhirnya
berkata:
"Kita
gabungkan."
Ayla berkedip.
"Eh?"
"Data
menentukan arah."
"Ya."
"Cerita
menentukan cara menyampaikannya."
Ayla terdiam.
"Kamu baru
saja setuju dengan saya?"
"Saya setuju
dengan solusi."
"Yang
kebetulan berasal dari ide saya."
"Saya tidak
mengatakan itu."
Ayla tersenyum.
"Tapi kamu
juga tidak menyangkal."
Kael tidak
menjawab.
Dan itu sudah
cukup sebagai kemenangan kecil.
Sore harinya, Ayla
menemukan masalah.
Dokumen konsep
kampanye mereka hilang.
Bukan seluruhnya.
Hanya bagian
terpenting.
Ide utama.
Dia mencari di
laptop.
Folder.
Email.
Cloud.
Tidak ada.
"Aku akan
gila."
Kael yang sedang
membaca laporan di seberang meja mengangkat kepala.
"Anda tidak
boleh mengatakan itu di kantor."
"Kenapa?"
"Karena HR
mungkin mencatat."
Ayla menatapnya.
"Kamu
serius?"
"Sedikit."
Ayla tertawa.
"Kamu
ternyata punya humor."
"Saya tidak
bercanda."
"Lebih lucu
lagi."
Mereka mencari
bersama sampai malam.
Jam sudah
menunjukkan pukul sembilan.
Ayla bersandar di
kursi.
"Kael."
"Ya?"
"Kenapa kamu
masih di sini?"
"Karena
pekerjaan belum selesai."
"Jawaban
kantor."
"Itu jawaban
benar."
Ayla menggeleng.
"Kamu selalu
begitu."
"Bagaimana?"
"Selalu punya
alasan yang masuk akal."
Kael menatap layar
laptop.
"Apakah itu
buruk?"
Ayla berpikir.
"Mungkin
tidak."
"Lalu?"
"Tapi
melelahkan."
Kael berhenti
mengetik.
"Apa?"
Ayla melihatnya.
"Bukan kamu
yang melelahkan."
"Terima
kasih."
"Kebiasaanmu
menyimpan semuanya sendiri."
Untuk sesaat,
ekspresi Kael berubah.
Sangat kecil.
Tapi Ayla
melihatnya.
"Kenapa kamu
berpikir begitu?"
"Karena kamu
selalu bilang 'tidak masalah' sebelum orang lain sempat bertanya."
Kael diam.
Ayla tersenyum
kecil.
"Nah."
"Apa?"
"Ini pertama
kalinya kamu tidak punya jawaban cepat."
Kael menutup
laptop.
"Mungkin
karena saya sedang memikirkan jawaban."
Ayla tersenyum.
"Berarti kamu
manusia."
"Terima kasih
atas informasinya."
Malam itu, saat
mereka akhirnya menemukan dokumen yang hilang...
Ayla bersorak
kecil.
"Ketemu!"
Kael melihat jam.
"Lima menit
lagi pukul sebelas."
Ayla memasukkan
barang-barangnya.
"Kalau begitu
kita menang."
"Kita hanya
menemukan file."
"Tetap
kemenangan."
Kael memperhatikan
wajah Ayla yang terlihat puas hanya karena hal kecil.
Aneh.
Biasanya dia hanya
memikirkan hasil akhir.
Target.
Angka.
Keuntungan.
Tapi bersama
Ayla...
Hal kecil terasa
seperti sesuatu yang layak dirayakan.
Di lift, mereka
berdiri berdampingan.
Sunyi.
Biasanya Kael
menyukai sunyi.
Tapi kali ini
terasa berbeda.
Ayla tiba-tiba
berkata:
"Kael."
"Ya?"
"Kamu tahu
tidak?"
"Apa?"
"Kamu tidak
semenakutkan rumor kantor."
Kael melihatnya.
"Rumor
apa?"
Ayla menghitung
dengan jari.
"Bahwa kamu
dingin. Sulit diajak bicara. Tidak punya perasaan."
"Dan?"
Ayla tersenyum.
"Yang
terakhir mungkin sedikit benar."
Kael mengangkat
alis.
"Sedikit?"
"Sedikit
sekali."
Pintu lift
terbuka.
Ayla keluar
duluan.
Lalu berbalik.
"Sampai
besok, partner."
Kael melihatnya
pergi.
Partner.
Entah kenapa satu
kata sederhana itu terdengar berbeda.
Dan untuk pertama
kalinya dalam waktu lama...
Kael tidak ingin
besok datang hanya karena pekerjaan.
Dia ingin melihat
apakah perempuan itu akan datang dengan kopi yang tumpah lagi.
Atau mungkin...
Kali ini dia bisa
mencegahnya.
0 comments:
Post a Comment