Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 2

 

CHASING AURORA

Bab 2 — Partner Kerja yang Terlalu Sempurna

Ayla punya tiga aturan ketika bekerja dengan seseorang.

Pertama, jangan menilai seseorang hanya dari kesan pertama.

Kedua, jangan pernah percaya orang yang mengatakan, "Saya hanya sebentar" saat meminta revisi.

Ketiga...

Jangan pernah memulai hari Senin dengan kopi yang tumpah di baju.

Sayangnya, pagi itu Ayla melanggar aturan ketiga.

"Bagus."

Ayla menatap noda kopi di kemeja putihnya.

"Sangat bagus."

Dia melihat jam.

08.42.

Meeting pertama dengan tim Aurora pukul 09.00.

Dan dia terlihat seperti baru kalah perang melawan mesin kopi.

"Kenapa benda ini membenciku?"

Barista kafe di bawah kantor hanya tersenyum.

"Mungkin kopinya punya masalah pribadi, Kak."

Ayla menatap gelas kopi.

"Masuk akal. Saya juga punya masalah pribadi dengan kopi ini."


Saat Ayla masuk ruang meeting, semua orang sudah duduk.

Termasuk Kael.

Tentu saja.

Pria itu terlihat seperti iklan jam tangan mahal.

Rapi.

Tenang.

Tidak ada noda.

Tidak ada rambut berantakan.

Tidak ada tanda bahwa dia pernah mengalami pagi buruk.

Ayla duduk di sebelahnya.

Kael melihat bajunya.

Lalu melihat wajahnya.

"Tumpah?"

Ayla menoleh.

"Selamat pagi juga."

"Saya hanya bertanya."

"Dan saya hanya menjawab dengan sopan."

Kael mengangguk kecil.

"Itu bukan jawaban."

Ayla menarik napas.

"Ya. Kopi saya menyerang saya."

"Anda kalah?"

"Untuk sementara."

Kael diam.

Ayla menunggu.

Lalu sadar.

Dia sedang menunggu komentar.

Biasanya orang akan tertawa.

Atau setidaknya mengatakan sesuatu.

Tapi Kael hanya berkata:

"Baik."

Ayla mengernyit.

"Baik?"

"Ya."

"Kamu tidak mau bertanya bagaimana bisa kopi menyerang saya?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena saya rasa ceritanya panjang."

Ayla menatapnya.

"Wow."

"Apa?"

"Kamu benar-benar tidak punya rasa penasaran."

Kael membuka laptopnya.

"Saya punya."

"Serius?"

"Ya."

"Contohnya?"

Kael melihat noda kopi di bajunya.

"Saya penasaran bagaimana seseorang bisa berjalan sambil membawa kopi, membaca email, dan tersandung meja yang diam."

Ayla terdiam.

"Itu terdengar seperti hinaan."

"Itu observasi."

"Semua hinaanmu diberi nama observasi."

"Lebih profesional."

Ayla hampir tertawa.

Hampir.


Meeting dimulai.

Proyek Aurora ternyata lebih besar dari perkiraan Ayla.

Perusahaan ingin mengubah sebuah brand lama menjadi sesuatu yang relevan untuk generasi baru.

Tim kreatif ingin mempertahankan nilai emosional.

Tim bisnis ingin memastikan keuntungan.

Dan di tengah dua sisi itu...

Ada Ayla dan Kael.

Dua orang yang selalu merasa cara mereka paling masuk akal.

"Menurut saya," kata Ayla, "kita harus memulai dari cerita pelanggan."

Kael melihat proposalnya.

"Menurut saya, kita harus memulai dari data pelanggan."

Ayla menoleh.

"Lihat? Kita sudah kembali ke sini."

"Karena ini penting."

"Dan cerita juga penting."

"Data membantu kita membuat keputusan."

"Dan cerita membantu orang peduli dengan keputusan itu."

Ruangan kembali sunyi.

Seorang staf junior diam-diam melihat ke arah mereka.

Seperti sedang menonton pertandingan tenis.

Kepala menoleh ke kanan.

Lalu ke kiri.

Ke kanan.

Ke kiri.

Kael akhirnya berkata:

"Kita gabungkan."

Ayla berkedip.

"Eh?"

"Data menentukan arah."

"Ya."

"Cerita menentukan cara menyampaikannya."

Ayla terdiam.

"Kamu baru saja setuju dengan saya?"

"Saya setuju dengan solusi."

"Yang kebetulan berasal dari ide saya."

"Saya tidak mengatakan itu."

Ayla tersenyum.

"Tapi kamu juga tidak menyangkal."

Kael tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup sebagai kemenangan kecil.


Sore harinya, Ayla menemukan masalah.

Dokumen konsep kampanye mereka hilang.

Bukan seluruhnya.

Hanya bagian terpenting.

Ide utama.

Dia mencari di laptop.

Folder.

Email.

Cloud.

Tidak ada.

"Aku akan gila."

Kael yang sedang membaca laporan di seberang meja mengangkat kepala.

"Anda tidak boleh mengatakan itu di kantor."

"Kenapa?"

"Karena HR mungkin mencatat."

Ayla menatapnya.

"Kamu serius?"

"Sedikit."

Ayla tertawa.

"Kamu ternyata punya humor."

"Saya tidak bercanda."

"Lebih lucu lagi."


Mereka mencari bersama sampai malam.

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan.

Ayla bersandar di kursi.

"Kael."

"Ya?"

"Kenapa kamu masih di sini?"

"Karena pekerjaan belum selesai."

"Jawaban kantor."

"Itu jawaban benar."

Ayla menggeleng.

"Kamu selalu begitu."

"Bagaimana?"

"Selalu punya alasan yang masuk akal."

Kael menatap layar laptop.

"Apakah itu buruk?"

Ayla berpikir.

"Mungkin tidak."

"Lalu?"

"Tapi melelahkan."

Kael berhenti mengetik.

"Apa?"

Ayla melihatnya.

"Bukan kamu yang melelahkan."

"Terima kasih."

"Kebiasaanmu menyimpan semuanya sendiri."

Untuk sesaat, ekspresi Kael berubah.

Sangat kecil.

Tapi Ayla melihatnya.

"Kenapa kamu berpikir begitu?"

"Karena kamu selalu bilang 'tidak masalah' sebelum orang lain sempat bertanya."

Kael diam.

Ayla tersenyum kecil.

"Nah."

"Apa?"

"Ini pertama kalinya kamu tidak punya jawaban cepat."

Kael menutup laptop.

"Mungkin karena saya sedang memikirkan jawaban."

Ayla tersenyum.

"Berarti kamu manusia."

"Terima kasih atas informasinya."


Malam itu, saat mereka akhirnya menemukan dokumen yang hilang...

Ayla bersorak kecil.

"Ketemu!"

Kael melihat jam.

"Lima menit lagi pukul sebelas."

Ayla memasukkan barang-barangnya.

"Kalau begitu kita menang."

"Kita hanya menemukan file."

"Tetap kemenangan."

Kael memperhatikan wajah Ayla yang terlihat puas hanya karena hal kecil.

Aneh.

Biasanya dia hanya memikirkan hasil akhir.

Target.

Angka.

Keuntungan.

Tapi bersama Ayla...

Hal kecil terasa seperti sesuatu yang layak dirayakan.


Di lift, mereka berdiri berdampingan.

Sunyi.

Biasanya Kael menyukai sunyi.

Tapi kali ini terasa berbeda.

Ayla tiba-tiba berkata:

"Kael."

"Ya?"

"Kamu tahu tidak?"

"Apa?"

"Kamu tidak semenakutkan rumor kantor."

Kael melihatnya.

"Rumor apa?"

Ayla menghitung dengan jari.

"Bahwa kamu dingin. Sulit diajak bicara. Tidak punya perasaan."

"Dan?"

Ayla tersenyum.

"Yang terakhir mungkin sedikit benar."

Kael mengangkat alis.

"Sedikit?"

"Sedikit sekali."

Pintu lift terbuka.

Ayla keluar duluan.

Lalu berbalik.

"Sampai besok, partner."

Kael melihatnya pergi.

Partner.

Entah kenapa satu kata sederhana itu terdengar berbeda.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama...

Kael tidak ingin besok datang hanya karena pekerjaan.

Dia ingin melihat apakah perempuan itu akan datang dengan kopi yang tumpah lagi.

Atau mungkin...

Kali ini dia bisa mencegahnya.

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design