Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 26

 

CHASING AURORA

Bab 26 — Rapat Masa Depan yang Tidak Profesional

Kael Ardhana bisa memimpin rapat dengan dua puluh orang.

Bisa menghadapi investor yang menekan.

Bisa membuat keputusan dalam hitungan menit.

Tapi ternyata...

membicarakan masa depan dengan Ayla Renata jauh lebih sulit.


Karena bagi Kael...

masa depan biasanya berbentuk angka.

Target.

Strategi.

Jadwal.

Tapi bersama Ayla...

masa depan punya terlalu banyak variabel yang tidak bisa dihitung.

Misalnya:

Perasaan.


"Kita harus bicara."

Ayla berkata.

Kael langsung duduk tegak.

"Baik."

Ayla mengerutkan dahi.

"Kamu kenapa seperti mau presentasi?"

"Saya sedang mempersiapkan diri."

"Ini bukan rapat investor."

"Saya tahu."

"Lalu kenapa kamu membawa laptop?"

Kael melihat laptop di tangannya.

"Saya pikir lebih terstruktur."

Ayla menatapnya.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu mau membuat hubungan kita pakai tabel Excel?"

Kael berpikir.

"Kalau diperlukan..."

Ayla langsung tertawa.

"Ya Tuhan."


Lima menit kemudian, laptop Kael benar-benar terbuka.

Ayla melihat layar.

Dia terdiam.

"Kael."

"Ya?"

"Kamu membuat judul?"

Kael mengangguk.

Ayla membaca.

Rencana Masa Depan: Ayla Renata & Kael Ardhana

Ayla menutup wajahnya.

"Aku tidak tahu harus tertawa atau khawatir."

"Saya hanya ingin memastikan semua kemungkinan."

"Kemungkinan apa?"

"Karier. Lokasi. Waktu. Prioritas."

Ayla menunjuk layar.

"Kamu lupa satu."

"Apa?"

"Cinta."

Kael diam.

Lalu mengetik.

Ayla langsung tertawa.

"Kamu menambahkannya?"

"Ya."

"Kamu serius?"

"Saya sedang mencoba."


Akhirnya mereka membuat aturan.

Bukan kontrak.

Bukan perjanjian.

Hanya kesepakatan sederhana.

Pertama:

Tidak membuat keputusan besar sendirian.

Kedua:

Tidak menggunakan pekerjaan sebagai alasan menghindari pembicaraan.

Ketiga:

Tetap menjadi diri sendiri.


"Aturan keempat."

Ayla berkata.

"Apa?"

"Jangan membuat spreadsheet tentang hubungan kita lagi."

Kael terlihat berpikir.

"Baik."

Ayla menyipitkan mata.

"Kamu ragu."

"Tidak."

"Kamu ragu."

"Saya hanya merasa spreadsheet cukup efektif."

Ayla melempar bantal kecil ke arahnya.

Untuk pertama kalinya...

Kael tertawa.

Bukan senyum kecil.

Tapi benar-benar tertawa.

Dan Ayla berhenti sebentar.

Karena dia masih belum terbiasa melihat sisi itu.


"Kamu sadar tidak?"

"Apa?"

"Kamu sekarang lebih banyak tertawa."

Kael diam.

"Mungkin."

"Kenapa?"

Dia melihat Ayla.

"Karena dulu hidup saya terlalu serius."

Ayla tersenyum.

"Dan sekarang?"

"Sekarang ada kamu yang membuat semuanya berisik."

"Berisik?"

"Ya."

"Itu pujian?"

"Ya."

Ayla tertawa.

"Versi romantis kamu memang aneh."

"Saya sedang belajar."


Beberapa hari kemudian, Kael bertemu investor.

Dan untuk pertama kalinya...

dia tidak langsung menolak tawaran luar negeri.

Tapi juga tidak langsung menerima.

Dia meminta waktu.

Karena dia belajar satu hal:

Keputusan besar tidak harus dibuat sendirian.


Sementara itu, Ayla juga menghadapi pilihannya sendiri.

Dia mendapat tawaran menjadi direktur kreatif regional.

Kesempatan besar.

Tapi posisi itu membutuhkan perjalanan panjang.

Dulu dia mungkin langsung mengambilnya.

Sekarang...

dia berpikir.

Bukan karena takut kehilangan Kael.

Tapi karena dia ingin memastikan pilihannya benar-benar miliknya.


Malam itu, mereka bertemu di restoran kecil.

Ayla membawa dokumen.

Kael melihatnya.

"Kamu juga membawa laptop?"

Ayla tersenyum.

"Ya."

Kael langsung curiga.

"Kamu membuat spreadsheet?"

"Tidak."

"Lalu?"

Ayla membuka laptop.

"Presentasi."

Kael terkejut.

"Kamu membuat presentasi tentang hubungan kita?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Tentang keputusan karier."

Kael mengangguk lega.

"Bagus."

Ayla tersenyum.

"Walaupun..."

"Apa?"

"Saya membuat satu slide kecil."

Kael melihat layar.

Judulnya:

Kenapa Kael Harus Berhenti Bertingkah Seperti Robot

Kael terdiam.

"Ayla."

"Ya?"

"Ini menyerang pribadi."

"Ini berdasarkan observasi."


Kael membaca isinya.

Poin pertama:

  • Terlalu banyak bekerja.

Poin kedua:

  • Lupa makan.

Poin ketiga:

  • Tidak sadar ketika romantis.

Kael menunjuk poin ketiga.

"Ini tidak terbukti."

Ayla mengangkat alis.

"Kamu memberikan saya kompas sebagai hadiah pulang."

"Itu relevan."

"Kamu menulis pesan bahwa kamu mengingat saya saat tidak ada alasan."

"Itu fakta."

"Kael."

"Ya?"

"Itu romantis."

Kael diam.

Lalu berkata:

"Saya perlu revisi definisi romantis."

Ayla tertawa.


Malam itu mereka tidak mendapat semua jawaban.

Mereka belum tahu siapa yang akan pergi.

Siapa yang akan tinggal.

Bagaimana masa depan Aurora.

Tapi untuk pertama kalinya...

mereka tidak takut pada pertanyaan itu.

Karena mereka menghadapinya bersama.


Keesokan harinya, keputusan investor akhirnya datang.

Dan kali ini...

bukan hanya Kael yang harus memilih.

Karena nama Ayla juga masuk dalam proposal baru.

Sebuah tawaran yang bisa mengubah seluruh arah kariernya.


Masa depan mereka ternyata bukan satu jalan.

Ada dua jalan besar.

Dan mereka harus menemukan cara...

untuk tetap berjalan berdampingan.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design