CHASING AURORA
Bab 26 — Rapat
Masa Depan yang Tidak Profesional
Kael Ardhana bisa
memimpin rapat dengan dua puluh orang.
Bisa menghadapi
investor yang menekan.
Bisa membuat
keputusan dalam hitungan menit.
Tapi ternyata...
membicarakan masa
depan dengan Ayla Renata jauh lebih sulit.
Karena bagi
Kael...
masa depan
biasanya berbentuk angka.
Target.
Strategi.
Jadwal.
Tapi bersama
Ayla...
masa depan punya
terlalu banyak variabel yang tidak bisa dihitung.
Misalnya:
Perasaan.
"Kita harus
bicara."
Ayla berkata.
Kael langsung
duduk tegak.
"Baik."
Ayla mengerutkan
dahi.
"Kamu kenapa
seperti mau presentasi?"
"Saya sedang
mempersiapkan diri."
"Ini bukan
rapat investor."
"Saya
tahu."
"Lalu kenapa
kamu membawa laptop?"
Kael melihat
laptop di tangannya.
"Saya pikir
lebih terstruktur."
Ayla menatapnya.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu mau
membuat hubungan kita pakai tabel Excel?"
Kael berpikir.
"Kalau
diperlukan..."
Ayla langsung
tertawa.
"Ya
Tuhan."
Lima menit
kemudian, laptop Kael benar-benar terbuka.
Ayla melihat
layar.
Dia terdiam.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu membuat
judul?"
Kael mengangguk.
Ayla membaca.
Rencana Masa
Depan: Ayla Renata & Kael Ardhana
Ayla menutup
wajahnya.
"Aku tidak
tahu harus tertawa atau khawatir."
"Saya hanya
ingin memastikan semua kemungkinan."
"Kemungkinan
apa?"
"Karier.
Lokasi. Waktu. Prioritas."
Ayla menunjuk
layar.
"Kamu lupa
satu."
"Apa?"
"Cinta."
Kael diam.
Lalu mengetik.
Ayla langsung
tertawa.
"Kamu
menambahkannya?"
"Ya."
"Kamu
serius?"
"Saya sedang
mencoba."
Akhirnya mereka
membuat aturan.
Bukan kontrak.
Bukan perjanjian.
Hanya kesepakatan
sederhana.
Pertama:
Tidak membuat
keputusan besar sendirian.
Kedua:
Tidak menggunakan
pekerjaan sebagai alasan menghindari pembicaraan.
Ketiga:
Tetap menjadi diri
sendiri.
"Aturan
keempat."
Ayla berkata.
"Apa?"
"Jangan
membuat spreadsheet tentang hubungan kita lagi."
Kael terlihat
berpikir.
"Baik."
Ayla menyipitkan
mata.
"Kamu
ragu."
"Tidak."
"Kamu
ragu."
"Saya hanya
merasa spreadsheet cukup efektif."
Ayla melempar
bantal kecil ke arahnya.
Untuk pertama
kalinya...
Kael tertawa.
Bukan senyum
kecil.
Tapi benar-benar
tertawa.
Dan Ayla berhenti
sebentar.
Karena dia masih
belum terbiasa melihat sisi itu.
"Kamu sadar
tidak?"
"Apa?"
"Kamu
sekarang lebih banyak tertawa."
Kael diam.
"Mungkin."
"Kenapa?"
Dia melihat Ayla.
"Karena dulu
hidup saya terlalu serius."
Ayla tersenyum.
"Dan
sekarang?"
"Sekarang ada
kamu yang membuat semuanya berisik."
"Berisik?"
"Ya."
"Itu
pujian?"
"Ya."
Ayla tertawa.
"Versi
romantis kamu memang aneh."
"Saya sedang
belajar."
Beberapa hari
kemudian, Kael bertemu investor.
Dan untuk pertama
kalinya...
dia tidak langsung
menolak tawaran luar negeri.
Tapi juga tidak
langsung menerima.
Dia meminta waktu.
Karena dia belajar
satu hal:
Keputusan besar
tidak harus dibuat sendirian.
Sementara itu,
Ayla juga menghadapi pilihannya sendiri.
Dia mendapat
tawaran menjadi direktur kreatif regional.
Kesempatan besar.
Tapi posisi itu
membutuhkan perjalanan panjang.
Dulu dia mungkin
langsung mengambilnya.
Sekarang...
dia berpikir.
Bukan karena takut
kehilangan Kael.
Tapi karena dia
ingin memastikan pilihannya benar-benar miliknya.
Malam itu, mereka
bertemu di restoran kecil.
Ayla membawa
dokumen.
Kael melihatnya.
"Kamu juga
membawa laptop?"
Ayla tersenyum.
"Ya."
Kael langsung
curiga.
"Kamu membuat
spreadsheet?"
"Tidak."
"Lalu?"
Ayla membuka
laptop.
"Presentasi."
Kael terkejut.
"Kamu membuat
presentasi tentang hubungan kita?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Tentang
keputusan karier."
Kael mengangguk
lega.
"Bagus."
Ayla tersenyum.
"Walaupun..."
"Apa?"
"Saya membuat
satu slide kecil."
Kael melihat
layar.
Judulnya:
Kenapa Kael
Harus Berhenti Bertingkah Seperti Robot
Kael terdiam.
"Ayla."
"Ya?"
"Ini
menyerang pribadi."
"Ini
berdasarkan observasi."
Kael membaca
isinya.
Poin pertama:
- Terlalu banyak bekerja.
Poin kedua:
- Lupa makan.
Poin ketiga:
- Tidak sadar ketika romantis.
Kael menunjuk poin
ketiga.
"Ini tidak
terbukti."
Ayla mengangkat
alis.
"Kamu
memberikan saya kompas sebagai hadiah pulang."
"Itu
relevan."
"Kamu menulis
pesan bahwa kamu mengingat saya saat tidak ada alasan."
"Itu
fakta."
"Kael."
"Ya?"
"Itu
romantis."
Kael diam.
Lalu berkata:
"Saya perlu
revisi definisi romantis."
Ayla tertawa.
Malam itu mereka
tidak mendapat semua jawaban.
Mereka belum tahu
siapa yang akan pergi.
Siapa yang akan
tinggal.
Bagaimana masa
depan Aurora.
Tapi untuk pertama
kalinya...
mereka tidak takut
pada pertanyaan itu.
Karena mereka
menghadapinya bersama.
Keesokan harinya,
keputusan investor akhirnya datang.
Dan kali ini...
bukan hanya Kael
yang harus memilih.
Karena nama Ayla
juga masuk dalam proposal baru.
Sebuah tawaran
yang bisa mengubah seluruh arah kariernya.
Masa depan mereka
ternyata bukan satu jalan.
Ada dua jalan
besar.
Dan mereka harus
menemukan cara...
untuk tetap
berjalan berdampingan.
0 comments:
Post a Comment