Malam itu...
tidak ada satu pun lampu di ruang kerja Adrian yang dipadamkan.
Foto lama itu masih berada di atas meja.
Sebuah gambar keluarga yang terlihat sempurna.
Namun satu kalimat di belakangnya menghancurkan semuanya.
"Anak yang kalian lindungi bukanlah anak yang kalian kira."
Adrian menatap foto itu lama.
Wajahnya tetap tenang.
Terlalu tenang.
Elena yang berdiri di sampingnya tahu...
di dalam dirinya sedang terjadi badai besar.
"Adrian."
Ia memanggil pelan.
"Apa yang Anda pikirkan?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
"Sepanjang hidupku..."
"Aku percaya aku tahu siapa diriku."
Ia menyentuh foto kecilnya.
"Tapi ternyata mungkin aku tidak pernah benar-benar tahu."
Elena tidak berkata apa-apa.
Karena kali ini bukan waktunya memberi jawaban.
Hanya menemani.
Alfred berdiri di depan meja.
"Yang Mulia..."
"Ada sesuatu yang harus saya akui."
Adrian menoleh.
"Berbicara."
Kepala pelayan tua itu menarik napas.
"Ketika Lady Evelyn masih hidup..."
"Beliau pernah meminta saya menyimpan sebuah dokumen."
Adrian langsung menatapnya.
"Dokumen apa?"
"Saya tidak tahu isinya."
Alfred menunduk.
"Beliau hanya berkata..."
"Jika suatu hari Adrian mengetahui kebenaran tentang kelahirannya, berikan ini."
Ruangan langsung sunyi.
"Kenapa baru sekarang?"
Suara Adrian rendah.
Alfred menutup mata.
"Karena saya berharap hari itu tidak pernah datang."
Namun akhirnya...
ia menyerahkan sebuah amplop putih.
Lebih kecil dari surat sebelumnya.
Dan di atasnya tertulis:
"Untuk Adrian, ketika ia sudah siap mengetahui siapa dirinya."
Tangan Adrian berhenti.
Kalimat itu terasa seperti ibunya masih mengenalnya.
Masih tahu bagaimana dirinya berpikir.
Ia membuka surat tersebut.
"Adrian."
"Jika kau membaca ini, berarti rahasia yang selama ini kusimpan akhirnya menemukan jalannya kepadamu."
"Pertama-tama, ketahuilah satu hal."
"Tidak ada satu pun keputusan yang kubuat karena aku tidak mencintaimu."
Adrian menunduk.
"Kau adalah anakku."
Keheningan.
Elena melihat Adrian berhenti membaca.
Namun beberapa detik kemudian...
ia melanjutkan.
"Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain."
"Tidak peduli darah siapa yang mengalir dalam tubuhmu."
"Kau tetap anak yang kupeluk pertama kali."
Air mata tidak jatuh.
Adrian bukan orang yang mudah menangis.
Namun ekspresinya berubah.
Lalu bagian berikutnya membuatnya membeku.
"Namun ada satu kebenaran yang harus kau ketahui."
"Ketika kau lahir..."
"Aku dan Cedric menemukanmu dalam keadaan yang tidak seharusnya."
Elena mengerutkan kening.
"Kau bukan sekadar penerus Noctis."
"Kau adalah alasan mengapa keluarga Noctis pernah dibentuk."
Adrian berhenti.
"Darahmu membawa hubungan dengan pendiri pertama keluarga Noctis."
"Karena itu Noctis Orchid mengenalimu."
Elena melihat bunga di luar jendela.
Jadi...
bukan bunga yang memilih keluarga Noctis.
Melainkan...
bunga itu memilih Adrian.
Namun halaman terakhir membuat suasana berubah.
"Tapi Adrian..."
"Jika suatu hari Cedric mencoba mengambil bunga itu darimu..."
"Jangan percaya padanya."
"Karena dia bukan lagi pria yang dulu kucintai."
Adrian menutup surat.
Tidak ada yang berbicara.
Kemudian...
pintu ruang kerja terbuka.
Seorang pelayan masuk dengan wajah panik.
"Yang Mulia."
"Ada kabar dari ibu kota."
Adrian menoleh.
"Apa?"
Pelayan itu menunduk.
"Lord Cedric Noctis telah kembali."
Waktu seolah berhenti.
"Dan..."
Pelayan itu melanjutkan.
"Beliau meminta bertemu dengan Duchess Elena."
Adrian langsung berdiri.
"Kenapa Elena?"
Pelayan itu menyerahkan surat.
Di dalamnya hanya ada satu kalimat.
"Bawa wanita yang membuat Noctis Orchid mekar."
"Aku ingin melihat apakah dia benar-benar layak berada di sisi anakku."
Tatapan Adrian menjadi dingin.
Karena untuk pertama kalinya...
ayahnya tidak memanggilnya sebagai Duke.
Tidak sebagai putra.
Tapi sebagai anaknya.
Dan Elena menyadari sesuatu.
Pertemuan dengan Lord Cedric...
bukan hanya tentang masa lalu keluarga Noctis.
Tapi tentang dirinya.
Bersambung...
Comments
Post a Comment