CHASING AURORA
Bab 32 — Hal
yang Tidak Pernah Kael Ceritakan
Ayla membaca pesan
itu berkali-kali.
Bukan karena dia
tidak mengerti.
Tapi karena dia
mencoba memahami maksudnya.
Ada sesuatu
tentang masa lalu Kael yang dia belum pernah ceritakan kepadamu.
Malam itu, Ayla
tidak langsung bertanya.
Dulu mungkin dia
akan langsung mengejar jawaban.
Tapi sekarang dia
tahu.
Kael bukan orang
yang menyimpan sesuatu karena ingin berbohong.
Dia menyimpan
sesuatu karena terlalu terbiasa menghadapi semuanya sendiri.
Keesokan paginya,
suasana kantor tetap berjalan seperti biasa.
Setidaknya...
berusaha seperti
biasa.
"Kenapa semua
orang terlihat serius?"
Ayla bertanya saat
masuk ruang kerja.
Mika menatapnya.
"Kami sedang
melakukan penelitian."
"Penelitian
apa?"
Renzo menunjukkan
layar komputer.
"Foto lama
Kael."
Ayla langsung
menghela napas.
"Kalian masih
membahas itu?"
"Ini
penting."
"Kenapa?"
Mika menjawab
serius:
"Kami
menemukan fakta mengejutkan."
"Apa?"
"Kael pernah
punya gaya rambut."
Ayla tidak bisa
menahan tawa.
"Jadi selama
ini kalian penasaran dengan itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
Renzo menjawab:
"Karena sulit
percaya seseorang pernah terlihat santai."
Tiba-tiba suara
Kael terdengar.
"Kalian
membicarakan saya lagi."
Semua langsung
diam.
Mika tersenyum.
"Tidak."
Kael melihat
layar.
"Foto
saya?"
"Dokumentasi
sejarah."
Kael menghela
napas.
"Saya merasa
privasi saya hilang."
Ayla tersenyum.
"Selamat.
Kamu sekarang terkenal."
Namun di balik
candaan itu...
Ayla masih
memikirkan pesan Shin.
Sore hari, Kael
sendiri yang membuka percakapan.
"Kamu ingin
bertanya sesuatu."
Bukan pertanyaan.
Pernyataan.
Ayla menatapnya.
"Kamu
tahu?"
"Saya
mengenal kamu."
Ayla diam
sebentar.
"Aku bertemu
Shin."
Kael mengangguk.
"Saya
tahu."
"Dia bilang
ada sesuatu yang belum pernah kamu ceritakan."
Kael tidak
langsung menjawab.
Mereka duduk di
ruang kerja Kael.
Untuk beberapa
saat, hanya ada suara hujan di luar.
"Ketika saya
membangun Aurora..."
Kael mulai.
"Saya tidak
hanya kehilangan uang."
Ayla mendengarkan.
"Saya
kehilangan banyak hal."
Tahun-tahun awal
Aurora tidak mudah.
Kael pernah
ditolak berkali-kali.
Banyak investor
mengatakan idenya terlalu idealis.
Banyak orang
mengatakan dia hanya anak keluarga kaya yang sedang bermain bisnis.
"Yang paling
sulit..."
Kael berhenti.
"Adalah
ketika orang mengatakan keberhasilan saya hanya karena nama keluarga."
Ayla terdiam.
Karena sekarang
dia mengerti.
Itulah alasan Kael
selalu berusaha membuktikan dirinya.
"Dan
Shin?"
"Dia orang
yang melihat saya saat semua orang hanya melihat nama Ardhana."
Kael tersenyum
kecil.
"Suatu hari
Aurora hampir gagal."
"Benarkah?"
"Ya."
"Aku tidak
pernah tahu."
"Saya tidak
ingin orang tahu."
Saat itu, Kael
membuat keputusan besar.
Menjual sebagian
aset pribadinya untuk mempertahankan perusahaan.
Bahkan sempat
tidur di kantor selama berbulan-bulan.
Ayla menatapnya.
"Kamu
melakukan semua itu sendirian?"
Kael menggeleng.
"Tidak."
"Shin?"
"Ya."
Lalu kenapa mereka
berpisah?
Karena satu
keputusan.
"Shin ingin
menerima investasi besar dari perusahaan lain."
Kael berkata.
"Saya
menolak."
"Karena kamu
takut kehilangan Aurora?"
"Ya."
Tapi masalahnya...
Kael tidak pernah
menceritakan bagian berikutnya.
"Shin pergi
bukan karena marah."
Ayla menatapnya.
"Lalu?"
"Karena dia
tahu saya terlalu keras kepala."
Kael tersenyum
kecil.
"Dia bilang
saya lebih mudah melawan dunia daripada meminta bantuan."
Ayla hampir
tersenyum.
"Dia
benar."
Kael melihatnya.
"Kamu juga
berpikir begitu?"
"Iya."
Kael menghela
napas.
"Tapi saya
takut."
"Takut
apa?"
"Kalau saya
menerima bantuan..."
Dia berhenti.
"Kalau saya
tidak mampu mempertahankan semuanya."
Ayla meraih
tangannya.
"Kael."
"Ya?"
"Kamu tahu
apa bedanya kamu dulu dan sekarang?"
Kael menggeleng.
"Dulu kamu
membangun Aurora sendirian."
"Lalu
sekarang?"
"Sekarang
kamu membangun sesuatu bersama orang lain."
Kael diam.
"Termasuk
aku?"
Ayla tersenyum.
"Terutama
aku."
Malam itu, Kael
akhirnya melakukan sesuatu yang jarang dia lakukan.
Dia mengaku:
"Saya tidak
tahu apa yang harus saya lakukan dengan masalah keluarga ini."
Ayla tersenyum
kecil.
"Bagus."
Kael bingung.
"Bagus?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena
biasanya kamu bilang kamu tahu."
Kael tertawa
kecil.
"Kamu senang
saya bingung?"
"Sedikit."
Beberapa hari
kemudian, seluruh tim Aurora mendapat kabar.
Kael memutuskan
mengadakan rapat besar.
Bukan untuk
mengumumkan penjualan.
Bukan untuk
menerima akuisisi.
Tapi untuk
mendengarkan semua orang.
Mika berbisik:
"Ini pertama
kalinya dia meminta pendapat sebelum mengambil keputusan."
Renzo mengangguk.
"Berarti Ayla
berhasil."
Ayla mendengar.
"Hei."
"Apa?"
"Jangan
bilang saya mengubah dia."
Mika tersenyum.
"Lalu?"
Ayla melihat Kael.
"Dia berubah
sendiri."
Namun di tengah
rapat...
sebuah email
masuk.
Dari Ardhana
Group.
Mereka memberi
batas waktu.
Tujuh hari.
Dalam tujuh hari
Kael harus memberikan keputusan.
Tujuh hari untuk
menentukan:
Apakah Aurora akan
menjadi lebih besar...
atau tetap menjadi
perusahaan yang dibangun dengan cara mereka sendiri.
Dan kali ini...
Kael tidak bisa
hanya memilih untuk dirinya sendiri.
Karena ada ribuan
orang yang bergantung pada keputusan itu.
Comments
Post a Comment