Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 31

 

CHASING AURORA

Bab 31 — Sebelum Aurora Menjadi Aurora

Berita tentang Ardhana Group dan Aurora Media memenuhi semua media bisnis.

Dalam satu hari.

Nama Aurora yang biasanya hanya dikenal di dunia kreatif...

tiba-tiba menjadi pembicaraan semua orang.


"Selamat."

Mika berkata sambil masuk ke ruang Kael.

Kael mengangkat kepala.

"Untuk apa?"

"Kamu masuk berita."

"Itu bukan sesuatu yang saya rayakan."

"Biasanya orang senang."

"Saya bukan biasanya."

Mika mengangguk.

"Itu benar."


Namun di balik semua tekanan itu...

Ayla menemukan sesuatu.

Sebuah kotak lama.

Di ruang penyimpanan arsip Aurora.


Awalnya dia hanya mencari dokumen proyek lama.

Tapi di dalam kotak itu ada sesuatu yang berbeda.

Sebuah foto.

Foto seorang Kael yang jauh lebih muda.

Rambut sedikit berantakan.

Tidak memakai jas.

Dan...

tersenyum lebih bebas.


Ayla terdiam.

Karena dia jarang melihat wajah itu.

Kael sekarang selalu terlihat terkendali.

Sedangkan orang di foto itu...

terlihat seperti seseorang yang masih punya banyak mimpi.


Di belakang foto ada tulisan kecil:

"Hari pertama Aurora. Jangan menyerah."


Ayla membalik beberapa dokumen.

Dan menemukan nama.

Shin Akira.


"Siapa dia?"

Ayla bertanya ketika Kael masuk ruangan.

Kael langsung berhenti.

Matanya melihat dokumen di tangan Ayla.

Dan ekspresinya berubah.


"Kamu menemukan itu."

"Boleh aku tahu?"

Kael diam.

Lalu duduk.

"Dia teman pertama saya ketika membangun Aurora."


Ayla menunggu.

Kael jarang bercerita tentang awal perusahaan.

"Sebelum Aurora sebesar sekarang..."

Kael melihat foto itu.

"Saya hanya punya ide."


Waktu itu, Kael masih muda.

Tidak punya banyak modal.

Tidak punya nama besar.

Tidak punya koneksi.

Hanya punya keyakinan bahwa perusahaan kreatif bisa dibangun dengan cara berbeda.


"Shin membantu saya."

Kael melanjutkan.

"Dia orang pertama yang percaya."

"Dia bekerja bersama kamu?"

"Ya."

"Lalu sekarang?"

Kael diam.

"Dia pergi."


Ayla melihat wajahnya.

"Kenapa?"

"Karena kami punya pandangan berbeda."


Kael tersenyum kecil.

"Dia percaya Aurora harus tumbuh cepat."

"Dan kamu?"

"Saya percaya Aurora harus tumbuh dengan benar."


Ayla mengangguk.

Jadi sejak awal...

konflik Kael bukan baru terjadi sekarang.

Dia sudah menghadapi pilihan itu sejak dulu.

Antara cepat atau benar.

Antara besar atau tetap punya nilai.


Malamnya, Ayla menceritakan hal itu pada Mika dan Renzo.

Kesalahan besar.

Karena mereka langsung tertarik.


"Jadi ada foto Kael muda?"

Mika bertanya.

Ayla mengangguk.

Renzo langsung berdiri.

"Kita harus lihat."

"Tidak."

"Tolong."

"Tidak."


Lima menit kemudian...

mereka sudah melihat foto itu.


"Wow."

Mika menatap layar.

"Dia punya rambut."

Kael yang kebetulan lewat berhenti.

"Apa maksudnya?"

Mika panik.

"Maksud saya..."

Renzo membantu.

"Anda sekarang terlihat lebih dewasa."

"Artinya?"

"Dulu lebih santai."

Kael mengambil ponsel.

"Berikan."


Ayla tertawa.

"Jangan."

Kael melihat foto itu.

Lalu diam.


"Kenapa?"

Ayla bertanya.

Kael tersenyum kecil.

"Saya lupa pernah seperti itu."


Kalimat sederhana.

Tapi Ayla tahu.

Kael bukan lupa tentang rambut atau pakaian.

Dia lupa bagaimana rasanya menjadi seseorang yang bermimpi tanpa takut gagal.


"Kamu masih orang yang sama."

Ayla berkata.

Kael melihatnya.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Saya sudah berubah."

Ayla tersenyum.

"Berubah bukan berarti kehilangan diri sendiri."


Keesokan harinya...

Kael akhirnya menghubungi seseorang.

Shin Akira.


Mereka bertemu di kafe kecil.

Tempat yang sangat berbeda dari ruang rapat besar.


"Sudah lama."

Shin berkata.

Kael mengangguk.

"Ya."

"Saya dengar Aurora besar sekarang."

"Ya."

"Kamu berhasil."

Kael tersenyum tipis.

"Kita berhasil."


Namun Shin langsung serius.

"Jadi masalahnya Ardhana Group?"

Kael mengangguk.

"Kamu tahu?"

"Semua orang tahu."


Shin bersandar.

"Kael."

"Ya?"

"Pertanyaannya bukan apakah Aurora akan berubah."

"Lalu?"

"Pertanyaannya apakah kamu masih tahu alasan kamu membangunnya."


Kalimat itu mengenai Kael.

Karena itu pertanyaan yang sama yang selama ini dia hindari.


Malamnya, Kael pulang lebih lambat.

Ayla masih menunggu.

"Kamu bertemu dia."

"Ya."

"Bagaimana?"

Kael tersenyum kecil.

"Dia masih menyebalkan."

Ayla tertawa.

"Bagus."

"Kenapa bagus?"

"Karena berarti dia masih teman kamu."


Kael duduk di sampingnya.

"Ayla."

"Ya?"

"Kalau suatu hari Aurora berubah..."

Ayla menatapnya.

"Jangan tanya apakah saya akan tetap di sini."

Kael terdiam.

"Tanya apakah kamu masih menjadi orang yang ingin saya ikuti."


Kael tersenyum.

Karena itu jawaban Ayla.

Bukan janji kosong.

Tapi kepercayaan.


Namun keesokan paginya...

Shin mengirim sebuah pesan.

Bukan kepada Kael.

Tapi kepada Ayla.

Satu kalimat:

"Ada sesuatu tentang masa lalu Kael yang dia belum pernah ceritakan kepadamu."


Dan untuk pertama kalinya...

Ayla merasa ada bagian dari Kael yang masih tertutup.

Bukan karena dia tidak percaya padanya.

Tapi karena Kael masih belajar...

bahwa dicintai juga berarti berani menunjukkan bagian yang paling sulit dari dirinya.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design