CHASING AURORA
Bab 31 —
Sebelum Aurora Menjadi Aurora
Berita tentang
Ardhana Group dan Aurora Media memenuhi semua media bisnis.
Dalam satu hari.
Nama Aurora yang
biasanya hanya dikenal di dunia kreatif...
tiba-tiba menjadi
pembicaraan semua orang.
"Selamat."
Mika berkata
sambil masuk ke ruang Kael.
Kael mengangkat
kepala.
"Untuk
apa?"
"Kamu masuk
berita."
"Itu bukan
sesuatu yang saya rayakan."
"Biasanya
orang senang."
"Saya bukan
biasanya."
Mika mengangguk.
"Itu
benar."
Namun di balik
semua tekanan itu...
Ayla menemukan
sesuatu.
Sebuah kotak lama.
Di ruang
penyimpanan arsip Aurora.
Awalnya dia hanya
mencari dokumen proyek lama.
Tapi di dalam
kotak itu ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah foto.
Foto seorang Kael
yang jauh lebih muda.
Rambut sedikit
berantakan.
Tidak memakai jas.
Dan...
tersenyum lebih
bebas.
Ayla terdiam.
Karena dia jarang
melihat wajah itu.
Kael sekarang
selalu terlihat terkendali.
Sedangkan orang di
foto itu...
terlihat seperti
seseorang yang masih punya banyak mimpi.
Di belakang foto
ada tulisan kecil:
"Hari
pertama Aurora. Jangan menyerah."
Ayla membalik
beberapa dokumen.
Dan menemukan
nama.
Shin Akira.
"Siapa
dia?"
Ayla bertanya
ketika Kael masuk ruangan.
Kael langsung
berhenti.
Matanya melihat
dokumen di tangan Ayla.
Dan ekspresinya
berubah.
"Kamu
menemukan itu."
"Boleh aku
tahu?"
Kael diam.
Lalu duduk.
"Dia teman
pertama saya ketika membangun Aurora."
Ayla menunggu.
Kael jarang
bercerita tentang awal perusahaan.
"Sebelum
Aurora sebesar sekarang..."
Kael melihat foto
itu.
"Saya hanya
punya ide."
Waktu itu, Kael
masih muda.
Tidak punya banyak
modal.
Tidak punya nama
besar.
Tidak punya
koneksi.
Hanya punya
keyakinan bahwa perusahaan kreatif bisa dibangun dengan cara berbeda.
"Shin
membantu saya."
Kael melanjutkan.
"Dia orang
pertama yang percaya."
"Dia bekerja
bersama kamu?"
"Ya."
"Lalu
sekarang?"
Kael diam.
"Dia
pergi."
Ayla melihat
wajahnya.
"Kenapa?"
"Karena kami
punya pandangan berbeda."
Kael tersenyum
kecil.
"Dia percaya
Aurora harus tumbuh cepat."
"Dan
kamu?"
"Saya percaya
Aurora harus tumbuh dengan benar."
Ayla mengangguk.
Jadi sejak awal...
konflik Kael bukan
baru terjadi sekarang.
Dia sudah
menghadapi pilihan itu sejak dulu.
Antara cepat atau
benar.
Antara besar atau
tetap punya nilai.
Malamnya, Ayla
menceritakan hal itu pada Mika dan Renzo.
Kesalahan besar.
Karena mereka
langsung tertarik.
"Jadi ada
foto Kael muda?"
Mika bertanya.
Ayla mengangguk.
Renzo langsung
berdiri.
"Kita harus
lihat."
"Tidak."
"Tolong."
"Tidak."
Lima menit
kemudian...
mereka sudah
melihat foto itu.
"Wow."
Mika menatap
layar.
"Dia punya
rambut."
Kael yang
kebetulan lewat berhenti.
"Apa
maksudnya?"
Mika panik.
"Maksud
saya..."
Renzo membantu.
"Anda
sekarang terlihat lebih dewasa."
"Artinya?"
"Dulu lebih
santai."
Kael mengambil
ponsel.
"Berikan."
Ayla tertawa.
"Jangan."
Kael melihat foto
itu.
Lalu diam.
"Kenapa?"
Ayla bertanya.
Kael tersenyum
kecil.
"Saya lupa
pernah seperti itu."
Kalimat sederhana.
Tapi Ayla tahu.
Kael bukan lupa
tentang rambut atau pakaian.
Dia lupa bagaimana
rasanya menjadi seseorang yang bermimpi tanpa takut gagal.
"Kamu masih
orang yang sama."
Ayla berkata.
Kael melihatnya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Saya sudah
berubah."
Ayla tersenyum.
"Berubah
bukan berarti kehilangan diri sendiri."
Keesokan
harinya...
Kael akhirnya
menghubungi seseorang.
Shin Akira.
Mereka bertemu di
kafe kecil.
Tempat yang sangat
berbeda dari ruang rapat besar.
"Sudah
lama."
Shin berkata.
Kael mengangguk.
"Ya."
"Saya dengar
Aurora besar sekarang."
"Ya."
"Kamu
berhasil."
Kael tersenyum
tipis.
"Kita
berhasil."
Namun Shin
langsung serius.
"Jadi
masalahnya Ardhana Group?"
Kael mengangguk.
"Kamu
tahu?"
"Semua orang
tahu."
Shin bersandar.
"Kael."
"Ya?"
"Pertanyaannya
bukan apakah Aurora akan berubah."
"Lalu?"
"Pertanyaannya
apakah kamu masih tahu alasan kamu membangunnya."
Kalimat itu
mengenai Kael.
Karena itu
pertanyaan yang sama yang selama ini dia hindari.
Malamnya, Kael
pulang lebih lambat.
Ayla masih
menunggu.
"Kamu bertemu
dia."
"Ya."
"Bagaimana?"
Kael tersenyum
kecil.
"Dia masih
menyebalkan."
Ayla tertawa.
"Bagus."
"Kenapa
bagus?"
"Karena
berarti dia masih teman kamu."
Kael duduk di
sampingnya.
"Ayla."
"Ya?"
"Kalau suatu
hari Aurora berubah..."
Ayla menatapnya.
"Jangan tanya
apakah saya akan tetap di sini."
Kael terdiam.
"Tanya apakah
kamu masih menjadi orang yang ingin saya ikuti."
Kael tersenyum.
Karena itu jawaban
Ayla.
Bukan janji
kosong.
Tapi kepercayaan.
Namun keesokan
paginya...
Shin mengirim
sebuah pesan.
Bukan kepada Kael.
Tapi kepada Ayla.
Satu kalimat:
"Ada
sesuatu tentang masa lalu Kael yang dia belum pernah ceritakan kepadamu."
Dan untuk pertama
kalinya...
Ayla merasa ada
bagian dari Kael yang masih tertutup.
Bukan karena dia
tidak percaya padanya.
Tapi karena Kael
masih belajar...
bahwa dicintai
juga berarti berani menunjukkan bagian yang paling sulit dari dirinya.
0 comments:
Post a Comment