Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 15

 

CHASING AURORA

Bab 15 — Pilihan yang Tidak Ada di Dalam Rencana

Kael Ardhana selalu membuat keputusan berdasarkan tiga hal.

Pertama: logika.

Kedua: dampak jangka panjang.

Ketiga: apa yang paling menguntungkan.

Selama bertahun-tahun, cara itu tidak pernah mengecewakannya.

Sampai sekarang.

Karena untuk pertama kalinya...

ada satu hal yang tidak bisa dimasukkan ke dalam perhitungan.

Ayla Renata.


Pagi itu, kantor terasa biasa.

Terlalu biasa.

Ayla duduk di mejanya, menyelesaikan laporan sambil berpura-pura tidak memperhatikan ruang kerja Kael.

Padahal sejak pukul delapan...

dia sudah melihat pintu ruangan itu berkali-kali.

Mika yang duduk di sebelahnya akhirnya menyerah.

"Kamu mau menghitung berapa kali dia keluar?"

Ayla tetap melihat layar.

"Aku tidak melihat."

"Kamu melihat."

"Aku bekerja."

"Kamu membaca halaman yang sama sejak tadi."

Ayla langsung mengganti halaman.

Mika tersenyum.

"Kamu gugup."

"Aku tidak."

"Kamu dan Kael benar-benar cocok."

Ayla menoleh.

"Kenapa?"

"Sama-sama keras kepala."


Pukul sepuluh pagi.

Kael memanggil seluruh tim inti.

Semua orang langsung tahu.

Ini tentang Tokyo.

Ayla duduk di kursinya.

Tangannya menggenggam pulpen.

Bukan karena takut.

Setidaknya dia mencoba meyakinkan dirinya begitu.

Kael berdiri di depan ruangan.

"Saya sudah memberikan keputusan mengenai tawaran pengembangan cabang Tokyo."

Semua menunggu.

Kael melihat dokumen di tangannya.

Lalu berkata:

"Saya menolak."

Ruangan langsung ramai.

Ayla membeku.


Setelah rapat selesai, Ayla langsung masuk ke ruangannya.

"Kael."

Dia mengangkat kepala.

"Ya?"

"Kamu menolak?"

Kael mengangguk.

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena saya memilih tetap di sini."

Ayla menatapnya.

"Tapi ini kesempatan besar."

"Ya."

"Kamu yakin?"

"Ya."

Ayla diam.

Lalu suaranya mengecil.

"Karena aku?"

Kael tidak langsung menjawab.

Dan Ayla tidak suka itu.

Karena dia takut jawabannya iya.


"Kalau karena aku..."

"Ayla."

Kael memotong.

Nada suaranya tenang.

Tapi tegas.

"Saya tidak menolak karena kamu."

Ayla terdiam.

"Saya menolak karena saya sadar apa yang saya inginkan."

"Dan apa itu?"

Kael melihat keluar jendela.

Dulu dia mungkin akan menjawab:

"Karena proyek Aurora."

"Karena perusahaan."

"Karena tanggung jawab."

Tapi kali ini...

dia memilih jujur.

"Saya ingin membangun sesuatu di sini."

Ayla mengangguk pelan.

"Lalu?"

Kael menatapnya.

"Dan saya ingin melihat siapa yang akan bersama saya saat saya melakukannya."


Jantung Ayla berhenti sebentar.

Karena Kael tidak mengatakan namanya.

Tapi dia tahu.


Sore hari, mereka makan siang bersama.

Bukan di restoran mahal.

Bukan acara bisnis.

Hanya kafe kecil dekat kantor.

Ayla tersenyum.

"Ini pertama kalinya kita makan tanpa membahas pekerjaan."

Kael melihat meja.

"Benarkah?"

"Iya."

"Biasanya?"

"Kita membahas pekerjaan sambil makan."

Kael mengangguk.

"Benar."

Ayla tertawa.

"Kamu bahkan mengakui itu."

"Saya tidak menyangkal fakta."

"Kamu sangat Kael."


Mereka diam beberapa saat.

Aneh.

Tapi tidak canggung.

Ayla memainkan sedotannya.

"Kael."

"Ya?"

"Kenapa kamu sulit sekali mengatakan apa yang kamu rasakan?"

Pertanyaan itu membuat Kael berhenti.

"Saya tidak tahu."

"Serius?"

"Ya."

"Saya pikir kamu akan memberikan analisis panjang."

"Saya sedang mencoba tidak melakukan itu."

Ayla tersenyum.

"Kemajuan."


Kael melihatnya.

"Ayla."

"Ya?"

"Kenapa kamu selalu bertanya hal yang membuat saya tidak nyaman?"

Ayla berpikir.

"Karena kalau tidak ada yang bertanya, kamu akan terus menyimpan semuanya sendiri."

Kael diam.

Dan dia tahu.

Itu benar.


Malamnya, hujan turun.

Mereka kembali berjalan di bawah satu payung.

Seperti dulu.

Tapi kali ini berbeda.

Tidak ada jarak.

Tidak ada rasa canggung.

Hanya dua orang yang sudah terlalu mengenal satu sama lain untuk berpura-pura.

"Aku senang kamu tetap di sini."

Ayla berkata pelan.

Kael menoleh.

"Saya juga."

Ayla tersenyum.

"Itu jawaban yang aman."

"Tidak."

Kael berhenti berjalan.

Ayla ikut berhenti.

"Saya senang karena kamu ada di sini."

Untuk sesaat...

Ayla tidak tahu harus berkata apa.

Karena Kael Ardhana tidak sering mengatakan hal seperti itu.

Dan ketika dia mengatakannya...

dia benar-benar bermaksud.


"Aku takut."

Ayla akhirnya berkata.

Kael menatapnya.

"Takut apa?"

"Kalau suatu hari kita terlalu terbiasa dengan keberadaan satu sama lain."

"Kenapa itu menakutkan?"

"Karena kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita terasa lebih sakit."

Kael diam.

Lalu menjawab:

"Saya tidak berencana menjadi sesuatu yang hanya lewat dalam hidup kamu."


Kalimat itu sederhana.

Tapi bagi Ayla...

itu lebih kuat dari pengakuan apa pun.


Malam itu, Kael kembali ke apartemennya.

Dia melihat kalender.

Jadwal.

Target.

Rencana lima tahun.

Semuanya masih ada.

Tapi sekarang ada satu hal baru.

Sebuah nama.

Ayla.

Dan untuk pertama kalinya...

Kael tidak merasa kehilangan kendali.

Karena mungkin...

memilih seseorang bukan berarti kehilangan arah.

Kadang...

justru menemukan tempat untuk pulang.


Namun hubungan mereka belum benar-benar dimulai.

Karena ada satu masalah kecil:

Mereka berdua sangat pintar dalam pekerjaan.

Tapi sangat buruk dalam urusan perasaan.

Dan seluruh kantor mulai menyadari sesuatu yang mereka sendiri belum berani akui.

Mereka bukan lagi sekadar partner.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design