CHASING AURORA
Bab 15 —
Pilihan yang Tidak Ada di Dalam Rencana
Kael Ardhana
selalu membuat keputusan berdasarkan tiga hal.
Pertama: logika.
Kedua: dampak
jangka panjang.
Ketiga: apa yang
paling menguntungkan.
Selama
bertahun-tahun, cara itu tidak pernah mengecewakannya.
Sampai sekarang.
Karena untuk
pertama kalinya...
ada satu hal yang
tidak bisa dimasukkan ke dalam perhitungan.
Ayla Renata.
Pagi itu, kantor
terasa biasa.
Terlalu biasa.
Ayla duduk di
mejanya, menyelesaikan laporan sambil berpura-pura tidak memperhatikan ruang
kerja Kael.
Padahal sejak
pukul delapan...
dia sudah melihat
pintu ruangan itu berkali-kali.
Mika yang duduk di
sebelahnya akhirnya menyerah.
"Kamu mau
menghitung berapa kali dia keluar?"
Ayla tetap melihat
layar.
"Aku tidak
melihat."
"Kamu
melihat."
"Aku
bekerja."
"Kamu membaca
halaman yang sama sejak tadi."
Ayla langsung
mengganti halaman.
Mika tersenyum.
"Kamu
gugup."
"Aku
tidak."
"Kamu dan
Kael benar-benar cocok."
Ayla menoleh.
"Kenapa?"
"Sama-sama
keras kepala."
Pukul sepuluh
pagi.
Kael memanggil
seluruh tim inti.
Semua orang
langsung tahu.
Ini tentang Tokyo.
Ayla duduk di
kursinya.
Tangannya
menggenggam pulpen.
Bukan karena
takut.
Setidaknya dia
mencoba meyakinkan dirinya begitu.
Kael berdiri di
depan ruangan.
"Saya sudah
memberikan keputusan mengenai tawaran pengembangan cabang Tokyo."
Semua menunggu.
Kael melihat
dokumen di tangannya.
Lalu berkata:
"Saya
menolak."
Ruangan langsung
ramai.
Ayla membeku.
Setelah rapat
selesai, Ayla langsung masuk ke ruangannya.
"Kael."
Dia mengangkat
kepala.
"Ya?"
"Kamu
menolak?"
Kael mengangguk.
"Iya."
"Kenapa?"
"Karena saya
memilih tetap di sini."
Ayla menatapnya.
"Tapi ini
kesempatan besar."
"Ya."
"Kamu
yakin?"
"Ya."
Ayla diam.
Lalu suaranya
mengecil.
"Karena
aku?"
Kael tidak
langsung menjawab.
Dan Ayla tidak
suka itu.
Karena dia takut
jawabannya iya.
"Kalau karena
aku..."
"Ayla."
Kael memotong.
Nada suaranya
tenang.
Tapi tegas.
"Saya tidak
menolak karena kamu."
Ayla terdiam.
"Saya menolak
karena saya sadar apa yang saya inginkan."
"Dan apa
itu?"
Kael melihat
keluar jendela.
Dulu dia mungkin
akan menjawab:
"Karena
proyek Aurora."
"Karena
perusahaan."
"Karena
tanggung jawab."
Tapi kali ini...
dia memilih jujur.
"Saya ingin
membangun sesuatu di sini."
Ayla mengangguk
pelan.
"Lalu?"
Kael menatapnya.
"Dan saya
ingin melihat siapa yang akan bersama saya saat saya melakukannya."
Jantung Ayla
berhenti sebentar.
Karena Kael tidak
mengatakan namanya.
Tapi dia tahu.
Sore hari, mereka
makan siang bersama.
Bukan di restoran
mahal.
Bukan acara
bisnis.
Hanya kafe kecil
dekat kantor.
Ayla tersenyum.
"Ini pertama
kalinya kita makan tanpa membahas pekerjaan."
Kael melihat meja.
"Benarkah?"
"Iya."
"Biasanya?"
"Kita
membahas pekerjaan sambil makan."
Kael mengangguk.
"Benar."
Ayla tertawa.
"Kamu bahkan
mengakui itu."
"Saya tidak
menyangkal fakta."
"Kamu sangat
Kael."
Mereka diam
beberapa saat.
Aneh.
Tapi tidak
canggung.
Ayla memainkan
sedotannya.
"Kael."
"Ya?"
"Kenapa kamu
sulit sekali mengatakan apa yang kamu rasakan?"
Pertanyaan itu
membuat Kael berhenti.
"Saya tidak
tahu."
"Serius?"
"Ya."
"Saya pikir
kamu akan memberikan analisis panjang."
"Saya sedang
mencoba tidak melakukan itu."
Ayla tersenyum.
"Kemajuan."
Kael melihatnya.
"Ayla."
"Ya?"
"Kenapa kamu
selalu bertanya hal yang membuat saya tidak nyaman?"
Ayla berpikir.
"Karena kalau
tidak ada yang bertanya, kamu akan terus menyimpan semuanya sendiri."
Kael diam.
Dan dia tahu.
Itu benar.
Malamnya, hujan
turun.
Mereka kembali
berjalan di bawah satu payung.
Seperti dulu.
Tapi kali ini
berbeda.
Tidak ada jarak.
Tidak ada rasa
canggung.
Hanya dua orang
yang sudah terlalu mengenal satu sama lain untuk berpura-pura.
"Aku senang
kamu tetap di sini."
Ayla berkata
pelan.
Kael menoleh.
"Saya
juga."
Ayla tersenyum.
"Itu jawaban
yang aman."
"Tidak."
Kael berhenti
berjalan.
Ayla ikut
berhenti.
"Saya senang
karena kamu ada di sini."
Untuk sesaat...
Ayla tidak tahu
harus berkata apa.
Karena Kael
Ardhana tidak sering mengatakan hal seperti itu.
Dan ketika dia
mengatakannya...
dia benar-benar
bermaksud.
"Aku
takut."
Ayla akhirnya
berkata.
Kael menatapnya.
"Takut
apa?"
"Kalau suatu
hari kita terlalu terbiasa dengan keberadaan satu sama lain."
"Kenapa itu
menakutkan?"
"Karena
kehilangan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari hidup kita terasa lebih
sakit."
Kael diam.
Lalu menjawab:
"Saya tidak
berencana menjadi sesuatu yang hanya lewat dalam hidup kamu."
Kalimat itu
sederhana.
Tapi bagi Ayla...
itu lebih kuat
dari pengakuan apa pun.
Malam itu, Kael
kembali ke apartemennya.
Dia melihat
kalender.
Jadwal.
Target.
Rencana lima
tahun.
Semuanya masih
ada.
Tapi sekarang ada
satu hal baru.
Sebuah nama.
Ayla.
Dan untuk pertama
kalinya...
Kael tidak merasa
kehilangan kendali.
Karena mungkin...
memilih seseorang
bukan berarti kehilangan arah.
Kadang...
justru menemukan
tempat untuk pulang.
Namun hubungan
mereka belum benar-benar dimulai.
Karena ada satu
masalah kecil:
Mereka berdua
sangat pintar dalam pekerjaan.
Tapi sangat buruk
dalam urusan perasaan.
Dan seluruh kantor
mulai menyadari sesuatu yang mereka sendiri belum berani akui.
Mereka bukan lagi
sekadar partner.
0 comments:
Post a Comment