Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 30

 

CHASING AURORA

Bab 30 — Nama Keluarga dan Nama Sendiri

Pesan dari ayahnya hanya satu kalimat.

Kita perlu bicara tentang Aurora.

Tapi bagi Kael Ardhana...

kalimat pendek itu selalu memiliki arti panjang.


Pagi itu, Kael duduk di ruang rapat hotel.

Ayla duduk di sebelahnya.

Bukan sebagai bawahan.

Bukan sebagai orang yang harus menunggu keputusan.

Tapi sebagai seseorang yang berjalan bersamanya.


"Kamu siap?"

Ayla bertanya.

Kael melihat dokumen di tangannya.

"Tidak."

Ayla sedikit terkejut.

"Kamu jujur?"

Kael mengangguk.

"Saya belajar dari kamu."

"Bagus."

"Biasanya saya akan mengatakan saya siap."

"Lalu?"

"Padahal belum tentu."

Ayla tersenyum.

"Perkembangan."


Pertemuan dengan ayah Kael berlangsung di kantor pusat keluarga Ardhana.

Tempat yang sama.

Ruangan yang sama.

Tapi Kael sudah berbeda.

Dulu dia datang sebagai anak yang ingin membuktikan diri.

Sekarang dia datang sebagai seseorang yang tahu nilainya.


Ayahnya meletakkan dokumen.

"Aurora berkembang."

Kael mengangguk.

"Ya."

"Lebih cepat dari perkiraan."

"Ya."

"Dan itu karena keputusan yang berani."

Kael diam.

Karena dia tidak terbiasa mendengar pujian dari ayahnya.


"Saya ingin menawarkan sesuatu."

Kael menatapnya.

"Apa?"

"Keluarga ingin berinvestasi lebih besar di Aurora."

Hening.


Dulu...

itu adalah hal yang Kael inginkan.

Pengakuan.

Dukungan.

Kesempatan.

Tapi sekarang...

dia tidak langsung menerimanya.


"Apa syaratnya?"

Ayahnya menatapnya.

"Kamu masih berpikir seperti pebisnis."

Kael menjawab tenang.

"Karena ini tentang perusahaan."


Ayahnya tersenyum tipis.

"Benar."

Lalu dia berkata:

"Keluarga ingin Aurora menjadi bagian dari grup Ardhana."


Kalimat itu membuat Kael diam.

Karena dia tahu maksudnya.

Bukan investasi.

Tapi pengambilalihan.


"Saya tidak bisa menerima itu."

Ayahnya mengangkat alis.

"Kenapa?"

"Karena Aurora dibangun dengan cara berbeda."

"Kamu menolak bantuan keluarga?"

"Tidak."

Kael menatapnya.

"Saya menolak kehilangan identitas perusahaan."


Untuk pertama kalinya...

ayahnya tidak langsung membalas.


Di luar ruangan, Ayla menunggu.

Ketika Kael keluar, dia langsung tahu.

"Bagaimana?"

Kael menghela napas.

"Rumit."

Ayla mengangguk.

"Seperti biasa."

Kael melihatnya.

"Kamu tidak terkejut?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena hidup kamu memang selalu datang dengan bonus masalah."

Kael hampir tertawa.

"Bonus?"

"Iya."

"Seperti hadiah?"

"Lebih seperti paket langganan."


Kael tertawa kecil.

Dan Ayla tersenyum.

Karena bahkan di tengah tekanan...

dia masih bisa membuat Kael tertawa.


Ketika kembali ke Aurora, seluruh tim langsung tahu ada sesuatu.

Bukan karena Kael mengatakan.

Tapi karena...

Kael membawa wajah "sedang memikirkan seribu hal".


Mika mendekat.

"Dia mode direktur."

Renzo mengangguk.

"Parah."

Ayla menatap mereka.

"Kalian tahu dari mana?"

"Enam bulan bekerja tanpa kamu membuat kami mengenal tanda-tandanya."

Kael mendengar.

"Saya ada di sini."

Mika tersenyum.

"Kami tahu."

"Dan?"

"Sedikit takut."


Rapat darurat pun dimulai.

Kael menjelaskan situasi.

Aurora bisa mendapatkan investasi besar.

Tapi ada risiko kehilangan kebebasan.


Semua diam.

Sampai seorang staf baru bertanya:

"Jadi... apakah kita akan punya kantor lebih besar?"

Semua menoleh.

Kael bingung.

"Itu bukan inti masalah."

"Tapi penting."

Ayla menahan tawa.

"Kenapa?"

"Karena ruang istirahat kita kecil."


Suasana yang tegang langsung pecah.

Bahkan Kael tersenyum.


Setelah rapat selesai, Ayla menemukan Kael sendirian.

"Kamu takut."

Kael tidak menyangkal.

"Ya."

"Karena apa?"

"Karena dulu saya membangun Aurora untuk membuktikan bahwa saya bisa berdiri sendiri."

Dia melihat gedung kantor.

"Dan sekarang ada kemungkinan semuanya berubah."


Ayla berdiri di sampingnya.

"Kael."

"Ya?"

"Kalau Aurora berubah, bukan berarti kamu gagal."

Kael diam.

"Perusahaan itu bukan hanya gedung, nama, atau saham."

"Lalu?"

"Orang-orang di dalamnya."


Kael melihat Ayla.

"Kamu termasuk?"

Ayla tersenyum.

"Sayangnya."

"Sayangnya?"

"Iya. Karena sekarang kamu harus mendengar pendapatku setiap hari."

Kael mengangguk.

"Itu memang tantangan besar."

Ayla memukul lengannya pelan.


Malam itu, Kael membuat keputusan.

Dia tidak akan menolak keluarganya karena ego.

Dan dia tidak akan menerima mereka karena rasa bersalah.

Dia akan mencari jalan ketiga.

Jalan yang menjaga Aurora tetap menjadi dirinya.


Tapi keesokan harinya...

sebuah berita muncul.

"Ardhana Group berencana mengakuisisi Aurora Media."

Dalam hitungan jam...

nama Aurora menjadi sorotan publik.

Dan kali ini...

Kael tidak hanya harus menghadapi keluarganya.

Dia harus menghadapi dunia luar.


Sementara itu...

Ayla menemukan sesuatu.

Sebuah dokumen lama tentang awal berdirinya Aurora.

Dan di sana...

ada satu nama yang tidak pernah Kael ceritakan.

Nama seseorang yang pernah membantu Kael membangun semuanya.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design