CHASING AURORA
Bab 30 — Nama
Keluarga dan Nama Sendiri
Pesan dari ayahnya
hanya satu kalimat.
Kita perlu
bicara tentang Aurora.
Tapi bagi Kael
Ardhana...
kalimat pendek itu
selalu memiliki arti panjang.
Pagi itu, Kael
duduk di ruang rapat hotel.
Ayla duduk di
sebelahnya.
Bukan sebagai
bawahan.
Bukan sebagai
orang yang harus menunggu keputusan.
Tapi sebagai
seseorang yang berjalan bersamanya.
"Kamu
siap?"
Ayla bertanya.
Kael melihat
dokumen di tangannya.
"Tidak."
Ayla sedikit
terkejut.
"Kamu
jujur?"
Kael mengangguk.
"Saya belajar
dari kamu."
"Bagus."
"Biasanya
saya akan mengatakan saya siap."
"Lalu?"
"Padahal
belum tentu."
Ayla tersenyum.
"Perkembangan."
Pertemuan dengan
ayah Kael berlangsung di kantor pusat keluarga Ardhana.
Tempat yang sama.
Ruangan yang sama.
Tapi Kael sudah
berbeda.
Dulu dia datang
sebagai anak yang ingin membuktikan diri.
Sekarang dia
datang sebagai seseorang yang tahu nilainya.
Ayahnya meletakkan
dokumen.
"Aurora
berkembang."
Kael mengangguk.
"Ya."
"Lebih cepat
dari perkiraan."
"Ya."
"Dan itu
karena keputusan yang berani."
Kael diam.
Karena dia tidak
terbiasa mendengar pujian dari ayahnya.
"Saya ingin
menawarkan sesuatu."
Kael menatapnya.
"Apa?"
"Keluarga
ingin berinvestasi lebih besar di Aurora."
Hening.
Dulu...
itu adalah hal
yang Kael inginkan.
Pengakuan.
Dukungan.
Kesempatan.
Tapi sekarang...
dia tidak langsung
menerimanya.
"Apa
syaratnya?"
Ayahnya
menatapnya.
"Kamu masih
berpikir seperti pebisnis."
Kael menjawab
tenang.
"Karena ini
tentang perusahaan."
Ayahnya tersenyum
tipis.
"Benar."
Lalu dia berkata:
"Keluarga
ingin Aurora menjadi bagian dari grup Ardhana."
Kalimat itu
membuat Kael diam.
Karena dia tahu
maksudnya.
Bukan investasi.
Tapi
pengambilalihan.
"Saya tidak
bisa menerima itu."
Ayahnya mengangkat
alis.
"Kenapa?"
"Karena
Aurora dibangun dengan cara berbeda."
"Kamu menolak
bantuan keluarga?"
"Tidak."
Kael menatapnya.
"Saya menolak
kehilangan identitas perusahaan."
Untuk pertama
kalinya...
ayahnya tidak
langsung membalas.
Di luar ruangan,
Ayla menunggu.
Ketika Kael
keluar, dia langsung tahu.
"Bagaimana?"
Kael menghela
napas.
"Rumit."
Ayla mengangguk.
"Seperti
biasa."
Kael melihatnya.
"Kamu tidak
terkejut?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena hidup
kamu memang selalu datang dengan bonus masalah."
Kael hampir
tertawa.
"Bonus?"
"Iya."
"Seperti
hadiah?"
"Lebih
seperti paket langganan."
Kael tertawa
kecil.
Dan Ayla
tersenyum.
Karena bahkan di
tengah tekanan...
dia masih bisa
membuat Kael tertawa.
Ketika kembali ke
Aurora, seluruh tim langsung tahu ada sesuatu.
Bukan karena Kael
mengatakan.
Tapi karena...
Kael membawa wajah
"sedang memikirkan seribu hal".
Mika mendekat.
"Dia mode
direktur."
Renzo mengangguk.
"Parah."
Ayla menatap
mereka.
"Kalian tahu
dari mana?"
"Enam bulan
bekerja tanpa kamu membuat kami mengenal tanda-tandanya."
Kael mendengar.
"Saya ada di
sini."
Mika tersenyum.
"Kami
tahu."
"Dan?"
"Sedikit
takut."
Rapat darurat pun
dimulai.
Kael menjelaskan
situasi.
Aurora bisa
mendapatkan investasi besar.
Tapi ada risiko
kehilangan kebebasan.
Semua diam.
Sampai seorang
staf baru bertanya:
"Jadi...
apakah kita akan punya kantor lebih besar?"
Semua menoleh.
Kael bingung.
"Itu bukan
inti masalah."
"Tapi
penting."
Ayla menahan tawa.
"Kenapa?"
"Karena ruang
istirahat kita kecil."
Suasana yang
tegang langsung pecah.
Bahkan Kael
tersenyum.
Setelah rapat
selesai, Ayla menemukan Kael sendirian.
"Kamu
takut."
Kael tidak
menyangkal.
"Ya."
"Karena
apa?"
"Karena dulu
saya membangun Aurora untuk membuktikan bahwa saya bisa berdiri sendiri."
Dia melihat gedung
kantor.
"Dan sekarang
ada kemungkinan semuanya berubah."
Ayla berdiri di
sampingnya.
"Kael."
"Ya?"
"Kalau Aurora
berubah, bukan berarti kamu gagal."
Kael diam.
"Perusahaan
itu bukan hanya gedung, nama, atau saham."
"Lalu?"
"Orang-orang
di dalamnya."
Kael melihat Ayla.
"Kamu
termasuk?"
Ayla tersenyum.
"Sayangnya."
"Sayangnya?"
"Iya. Karena
sekarang kamu harus mendengar pendapatku setiap hari."
Kael mengangguk.
"Itu memang
tantangan besar."
Ayla memukul
lengannya pelan.
Malam itu, Kael
membuat keputusan.
Dia tidak akan
menolak keluarganya karena ego.
Dan dia tidak akan
menerima mereka karena rasa bersalah.
Dia akan mencari
jalan ketiga.
Jalan yang menjaga
Aurora tetap menjadi dirinya.
Tapi keesokan
harinya...
sebuah berita
muncul.
"Ardhana
Group berencana mengakuisisi Aurora Media."
Dalam hitungan
jam...
nama Aurora
menjadi sorotan publik.
Dan kali ini...
Kael tidak hanya
harus menghadapi keluarganya.
Dia harus
menghadapi dunia luar.
Sementara itu...
Ayla menemukan
sesuatu.
Sebuah dokumen
lama tentang awal berdirinya Aurora.
Dan di sana...
ada satu nama yang
tidak pernah Kael ceritakan.
Nama seseorang
yang pernah membantu Kael membangun semuanya.
0 comments:
Post a Comment