Tuesday, July 21, 2026

CHASING AURORA 23

 

CHASING AURORA

Bab 23 — Enam Bulan yang Terasa Berbeda

Kael Ardhana baru menyadari satu hal.

Kantor yang terlalu tenang ternyata lebih melelahkan daripada kantor yang penuh perdebatan.


Sudah tiga minggu sejak Ayla pergi ke London.

Tiga minggu sejak tidak ada suara yang berkata:

"Kael, kamu terlalu serius."

Tiga minggu sejak seseorang mengambil kopi dari mejanya sambil berkata:

"Ini lebih baik daripada kopi kamu."

Dan anehnya...

Kael merindukan semuanya.


"Kamu tahu?"

Renzo berkata sambil masuk ke ruangannya.

"Apa?"

"Dulu saya pikir kamu akan senang kalau kantor sepi."

Kael tetap melihat laptop.

"Saya tidak pernah mengatakan itu."

"Tapi kamu terlihat seperti orang yang ingin bekerja sendirian di pulau."

"Saya hanya suka fokus."

Renzo mengangguk.

"Lalu sekarang?"

Kael diam.

"Pulau itu terlalu sepi?"

Kael tidak menjawab.

Renzo tersenyum.

"Nah."


Malam itu, seperti biasa, mereka melakukan video call.

Atau mencoba.

Karena masalah pertama muncul dalam lima detik.

"Kamu membeku."

Suara Ayla terdengar putus-putus.

"Saya tidak."

"Kamu terlihat seperti patung."

"Saya masih mendengar kamu."

"Tapi wajahmu diam."

Kael melihat layar.

Benar.

Koneksi buruk.


Ayla tertawa.

Dan suara tawanya membuat Kael tersenyum.

"Kamu tertawa?"

"Aku melihat kamu."

"Apa yang lucu?"

"Kamu yang bisa menghadapi rapat besar dengan sepuluh orang, kalah dengan internet."

Kael menghela napas.

"Itu masalah teknis."

"Ya, Pak Direktur."


Mereka mulai memiliki rutinitas baru.

Pagi:

pesan singkat.

Siang:

foto makanan.

Malam:

video call.

Walaupun kadang hanya sepuluh menit.

Walaupun kadang salah satu terlalu lelah untuk bicara.

Tetap saja.

Mereka ada.


Tapi kehidupan Ayla di London tidak mudah.

Proyek besar berarti tekanan besar.

Dan salah satu orang yang paling sering membantunya adalah...

Leon Hart.

Konsultan kreatif dari tim internasional.

Pintar.

Santai.

Dan terlalu mudah membuat Ayla tertawa.


"Kamu tahu?"

Mika berkata saat video call dengan Ayla.

"Apa?"

"Ada orang baru di sekitar kamu."

Ayla langsung tahu.

"Leon?"

"Iya."

"Dia rekan kerja."

"Aku tidak bilang apa-apa."

"Tapi nada suaramu bilang banyak."

Mika tertawa.


Di sisi lain dunia...

Kael juga mendengar nama itu.

"Leon?"

Kael mengulang.

Saat video call.

Ayla mengangguk.

"Teman satu tim."

"Dia membantu proyek?"

"Iya."

"Bagus."

Ayla menyipitkan mata.

"Kamu kenapa?"

"Saya tidak kenapa-kenapa."

"Kamu menggunakan suara rapat."

Kael diam.

"Suara rapat?"

"Iya. Suara yang kamu pakai kalau sedang tidak ingin menunjukkan sesuatu."


Kael terdiam.

Karena lagi-lagi...

Ayla benar.


"Aku mau tanya."

Kata Ayla.

"Ya?"

"Kamu cemburu?"

Kael melihat layar.

"Tidak."

Ayla tertawa.

"Jawaban tercepat."

"Saya percaya kamu."

"Tapi?"

Kael menghela napas.

"Saya hanya tidak suka jarak membuat saya tidak tahu apa yang terjadi."


Ayla tersenyum kecil.

"Kael."

"Ya?"

"Aku juga kadang takut."

"Takut apa?"

"Takut kamu berubah karena hidup tanpa aku."


Kalimat itu membuat Kael diam.

Karena ternyata bukan hanya dia yang punya ketakutan.


"Kamu tahu sesuatu?"

Kael berkata.

"Apa?"

"Setiap kali ada sesuatu yang ingin saya ceritakan..."

Dia berhenti.

"Saya masih mencari nama kamu dulu."

Ayla terdiam.


"Kenapa?"

"Karena kamu orang pertama yang ingin saya beri tahu."


Dan untuk beberapa saat...

tidak ada yang bicara.

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.

Tapi karena kadang satu kalimat cukup.


Namun beberapa hari kemudian...

sebuah foto muncul di media sosial profesional.

Foto Ayla bersama Leon dan tim proyek.

Tidak ada yang salah.

Tidak ada yang aneh.

Tapi berita kecil itu sampai ke kantor Aurora.

Dan tentu saja...

sampai ke Kael.


Renzo melihat layar ponselnya.

"Jangan salah paham."

Kael mengambil ponselnya.

"Saya tidak salah paham."

"Kamu terlihat seperti ingin menyelidiki."

"Saya hanya melihat informasi."

"Kael."

"Apa?"

"Itu foto acara kerja."

Kael diam.


Malamnya, Ayla menelepon.

"Kamu melihat fotonya?"

Kael terdiam sebentar.

"Ya."

"Ada yang ingin kamu tanyakan?"

Kael melihat layar.

Ada banyak hal.

Tapi dia ingat sesuatu.

Kepercayaan.

"Saya percaya kamu."

Ayla tersenyum.

"Tapi?"

Kael akhirnya tersenyum kecil.

"Tapi saya tetap manusia."


Ayla tertawa.

Dan rasa sesak yang tadi ada perlahan hilang.


Karena hubungan mereka tidak menjadi kuat karena mereka tidak pernah merasa takut.

Mereka menjadi kuat karena setiap kali takut...

mereka memilih bicara.


Namun enam bulan belum selesai.

Dan semakin dekat waktu kepulangan Ayla...

semakin besar kejutan yang menunggu.

Karena ketika Ayla kembali ke Aurora...

dia bukan lagi Ayla yang pergi enam bulan lalu.

Dan Kael pun bukan lagi Kael yang ditinggalkannya.

 

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design