CHASING AURORA
Bab 23 — Enam
Bulan yang Terasa Berbeda
Kael Ardhana baru
menyadari satu hal.
Kantor yang
terlalu tenang ternyata lebih melelahkan daripada kantor yang penuh perdebatan.
Sudah tiga minggu
sejak Ayla pergi ke London.
Tiga minggu sejak
tidak ada suara yang berkata:
"Kael, kamu
terlalu serius."
Tiga minggu sejak
seseorang mengambil kopi dari mejanya sambil berkata:
"Ini lebih
baik daripada kopi kamu."
Dan anehnya...
Kael merindukan
semuanya.
"Kamu
tahu?"
Renzo berkata
sambil masuk ke ruangannya.
"Apa?"
"Dulu saya
pikir kamu akan senang kalau kantor sepi."
Kael tetap melihat
laptop.
"Saya tidak
pernah mengatakan itu."
"Tapi kamu
terlihat seperti orang yang ingin bekerja sendirian di pulau."
"Saya hanya
suka fokus."
Renzo mengangguk.
"Lalu
sekarang?"
Kael diam.
"Pulau itu
terlalu sepi?"
Kael tidak
menjawab.
Renzo tersenyum.
"Nah."
Malam itu, seperti
biasa, mereka melakukan video call.
Atau mencoba.
Karena masalah
pertama muncul dalam lima detik.
"Kamu
membeku."
Suara Ayla
terdengar putus-putus.
"Saya
tidak."
"Kamu
terlihat seperti patung."
"Saya masih
mendengar kamu."
"Tapi wajahmu
diam."
Kael melihat
layar.
Benar.
Koneksi buruk.
Ayla tertawa.
Dan suara tawanya
membuat Kael tersenyum.
"Kamu
tertawa?"
"Aku melihat
kamu."
"Apa yang
lucu?"
"Kamu yang
bisa menghadapi rapat besar dengan sepuluh orang, kalah dengan internet."
Kael menghela
napas.
"Itu masalah
teknis."
"Ya, Pak
Direktur."
Mereka mulai
memiliki rutinitas baru.
Pagi:
pesan singkat.
Siang:
foto makanan.
Malam:
video call.
Walaupun kadang
hanya sepuluh menit.
Walaupun kadang
salah satu terlalu lelah untuk bicara.
Tetap saja.
Mereka ada.
Tapi kehidupan
Ayla di London tidak mudah.
Proyek besar
berarti tekanan besar.
Dan salah satu
orang yang paling sering membantunya adalah...
Leon Hart.
Konsultan kreatif
dari tim internasional.
Pintar.
Santai.
Dan terlalu mudah
membuat Ayla tertawa.
"Kamu
tahu?"
Mika berkata saat
video call dengan Ayla.
"Apa?"
"Ada orang
baru di sekitar kamu."
Ayla langsung
tahu.
"Leon?"
"Iya."
"Dia rekan
kerja."
"Aku tidak
bilang apa-apa."
"Tapi nada
suaramu bilang banyak."
Mika tertawa.
Di sisi lain
dunia...
Kael juga
mendengar nama itu.
"Leon?"
Kael mengulang.
Saat video call.
Ayla mengangguk.
"Teman satu
tim."
"Dia membantu
proyek?"
"Iya."
"Bagus."
Ayla menyipitkan
mata.
"Kamu
kenapa?"
"Saya tidak
kenapa-kenapa."
"Kamu
menggunakan suara rapat."
Kael diam.
"Suara
rapat?"
"Iya. Suara
yang kamu pakai kalau sedang tidak ingin menunjukkan sesuatu."
Kael terdiam.
Karena
lagi-lagi...
Ayla benar.
"Aku mau
tanya."
Kata Ayla.
"Ya?"
"Kamu
cemburu?"
Kael melihat
layar.
"Tidak."
Ayla tertawa.
"Jawaban
tercepat."
"Saya percaya
kamu."
"Tapi?"
Kael menghela
napas.
"Saya hanya
tidak suka jarak membuat saya tidak tahu apa yang terjadi."
Ayla tersenyum
kecil.
"Kael."
"Ya?"
"Aku juga
kadang takut."
"Takut
apa?"
"Takut kamu
berubah karena hidup tanpa aku."
Kalimat itu
membuat Kael diam.
Karena ternyata
bukan hanya dia yang punya ketakutan.
"Kamu tahu
sesuatu?"
Kael berkata.
"Apa?"
"Setiap kali
ada sesuatu yang ingin saya ceritakan..."
Dia berhenti.
"Saya masih
mencari nama kamu dulu."
Ayla terdiam.
"Kenapa?"
"Karena kamu
orang pertama yang ingin saya beri tahu."
Dan untuk beberapa
saat...
tidak ada yang
bicara.
Bukan karena tidak
ada yang ingin dikatakan.
Tapi karena kadang
satu kalimat cukup.
Namun beberapa
hari kemudian...
sebuah foto muncul
di media sosial profesional.
Foto Ayla bersama
Leon dan tim proyek.
Tidak ada yang
salah.
Tidak ada yang
aneh.
Tapi berita kecil
itu sampai ke kantor Aurora.
Dan tentu saja...
sampai ke Kael.
Renzo melihat
layar ponselnya.
"Jangan salah
paham."
Kael mengambil
ponselnya.
"Saya tidak
salah paham."
"Kamu
terlihat seperti ingin menyelidiki."
"Saya hanya
melihat informasi."
"Kael."
"Apa?"
"Itu foto
acara kerja."
Kael diam.
Malamnya, Ayla
menelepon.
"Kamu melihat
fotonya?"
Kael terdiam
sebentar.
"Ya."
"Ada yang
ingin kamu tanyakan?"
Kael melihat
layar.
Ada banyak hal.
Tapi dia ingat
sesuatu.
Kepercayaan.
"Saya percaya
kamu."
Ayla tersenyum.
"Tapi?"
Kael akhirnya
tersenyum kecil.
"Tapi saya
tetap manusia."
Ayla tertawa.
Dan rasa sesak
yang tadi ada perlahan hilang.
Karena hubungan
mereka tidak menjadi kuat karena mereka tidak pernah merasa takut.
Mereka menjadi
kuat karena setiap kali takut...
mereka memilih
bicara.
Namun enam bulan
belum selesai.
Dan semakin dekat
waktu kepulangan Ayla...
semakin besar
kejutan yang menunggu.
Karena ketika Ayla
kembali ke Aurora...
dia bukan lagi
Ayla yang pergi enam bulan lalu.
Dan Kael pun bukan
lagi Kael yang ditinggalkannya.
0 comments:
Post a Comment