Pagi itu, Elena bangun dengan satu pikiran yang sama.
Buku tua yang ia temukan semalam.
Pesan dari Lady Evelyn Noctis.
Ibu Adrian.
Kalimat itu terus terulang dalam pikirannya.
"Jika kau membaca ini, berarti bunga yang selama ini tidur akhirnya menemukan seseorang."
Bagaimana mungkin?
Bagaimana mungkin ibu Adrian tahu bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang datang dan merawat Noctis Orchid?
Elena kembali ke perpustakaan.
Ia membawa buku tua itu bersamanya.
Namun halaman berikutnya...
kosong.
Tidak ada tulisan.
Tidak ada catatan.
Hanya halaman putih yang sudah menguning karena usia.
"Kenapa berhenti di sini?"
Elena membaliknya perlahan.
Ada sesuatu yang aneh.
Seolah-olah bagian terpenting sengaja disembunyikan.
Siang hari...
Elena pergi ke rumah kaca.
Namun langkahnya berhenti ketika melihat sesuatu.
Noctis Orchid.
Salah satu kelopaknya mulai terbuka.
Untuk pertama kalinya.
Setelah sepuluh tahun.
Elena mendekat perlahan.
Matanya membesar.
"Adrian..."
Tanpa sadar, ia memanggil namanya.
Tidak lama kemudian, Adrian datang.
Ia langsung tahu ada sesuatu yang terjadi dari ekspresi Elena.
"Ada apa?"
Elena menunjuk bunga itu.
"Ini..."
Adrian membeku.
Untuk beberapa saat, pria itu tidak bergerak.
Tatapannya hanya tertuju pada bunga putih kecil yang perlahan membuka.
Noctis Orchid.
Bunga yang selama bertahun-tahun tidak pernah mekar.
Kini mekar di hadapan mereka.
"Mustahil..."
Suara Adrian terdengar sangat pelan.
Elena menatapnya.
Ini pertama kalinya ia melihat Adrian kehilangan kendali atas ekspresinya.
Pria yang selalu tenang.
Pria yang selalu terlihat tidak tergoyahkan.
Kini hanya berdiri diam.
Seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu.
"Ibumu..."
Elena berhenti.
"Apakah beliau pernah melihat bunga ini mekar?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Kemudian ia mengangguk.
"Ya."
"Terakhir kali?"
"Sepuluh tahun lalu."
Tatapannya melembut.
"Sebelum beliau meninggal."
Elena memperhatikan Adrian.
Ada kesedihan yang selama ini disembunyikan pria itu.
Selama ini ia melihat Adrian sebagai Duke.
Sebagai pria dingin.
Sebagai seseorang yang sulit didekati.
Namun hari ini...
ia melihat seorang anak yang kehilangan ibunya.
"Apa artinya?"
Adrian bertanya.
Elena menatapnya.
"Apa?"
"Noctis Orchid mekar."
Suaranya rendah.
"Apa artinya?"
Elena terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Namun kemudian ia teringat tulisan Lady Evelyn.
Bunga itu menyimpan sesuatu yang harus diketahui Adrian suatu hari nanti.
"Mungkin..."
Elena melihat bunga itu.
"Mungkin bunga ini hanya ingin mengingatkan Anda bahwa sesuatu yang hilang masih bisa kembali."
Adrian menatapnya.
Sore itu, kabar tentang Noctis Orchid mulai menyebar di dalam mansion.
Namun Adrian memerintahkan satu hal.
Tidak ada seorang pun boleh membicarakannya di luar.
Bahkan kepada keluarga bangsawan.
Terutama kepada keluarga Valmont.
"Yang Mulia."
Alfred menyerahkan laporan.
"Ada satu hal lagi."
Adrian membaca dokumen tersebut.
Seseorang mencoba masuk ke arsip lama keluarga Noctis.
Dan meninggalkan simbol Black Orchid.
Ekspresinya berubah.
"Sudah berapa lama?"
"Baru tadi malam."
Adrian mengepalkan tangan.
Sepuluh tahun.
Selama sepuluh tahun mereka menghilang.
Dan sekarang...
mereka muncul tepat ketika Noctis Orchid kembali mekar.
Kebetulan?
Tidak mungkin.
Sementara itu...
Elena masih berada di rumah kaca.
Ia duduk di depan bunga yang baru mekar.
"Apa sebenarnya yang kau simpan?"
Ia menyentuh daun kecilnya.
"Dan kenapa semua orang begitu takut?"
Angin masuk melalui celah kaca.
Membuat kelopak bunga itu bergerak perlahan.
Lalu sesuatu jatuh dari sela batangnya.
Sebuah benda kecil.
Elena mengambilnya.
Sebuah kunci.
Kunci tua berwarna perak.
Dengan lambang keluarga Noctis.
Malam itu...
Elena membawa kunci tersebut kepada Adrian.
Begitu melihatnya...
wajah Adrian berubah.
"Di mana kau mendapatkannya?"
"Jatuh dari Noctis Orchid."
Keheningan.
Adrian mengambil kunci itu.
Tangannya sedikit menegang.
Karena ia tahu kunci itu.
Kunci yang dulu selalu dibawa ibunya.
Kunci menuju ruangan yang tidak pernah boleh dibuka siapa pun.
Ruangan yang bahkan Adrian sendiri tidak pernah berani masuki.
"Elena."
Nada suara Adrian berubah serius.
"Aku ingin kau berjanji satu hal."
"Apa?"
"Jika kita membuka ruangan itu..."
Ia menatapnya.
"Jangan percaya apa pun yang kau lihat sebelum aku menjelaskan semuanya."
Elena terdiam.
Karena untuk pertama kalinya...
Adrian meminta sesuatu bukan sebagai Duke.
Tapi sebagai seseorang yang takut kehilangan.
Dan di malam yang sama...
di tempat yang jauh dari mansion Noctis...
seseorang menerima kabar.
"Anggrek itu sudah mekar."
Senyuman tipis muncul.
"Kalau begitu..."
"Putra Evelyn Noctis akhirnya akan mengetahui kebenaran."
Bersambung...
Comments
Post a Comment