Bagian 5:
Kelahiran Putra Bai Suzhen dan Hukuman di Pagoda Leifeng
Setelah gagal
menyelamatkan Xu Xian dari Kuil Gunung Emas, Bai Suzhen dan Xiao Qing melarikan
diri ke sebuah lembah terpencil yang jauh dari Hangzhou. Pertempuran dahsyat
melawan Fa Hai telah menguras hampir seluruh kekuatan gaib Bai Suzhen. Tubuhnya
yang lemah semakin terbebani karena ia sedang mengandung.
Hari-hari
berikutnya dilalui dengan penuh kesunyian. Xiao Qing merawat sahabatnya tanpa
kenal lelah. Ia mencari tanaman obat, memasak makanan, dan menjaga gua tempat
mereka bersembunyi agar tidak ditemukan oleh para pemburu siluman.
Meski tubuhnya
semakin lemah, Bai Suzhen tidak pernah berhenti memikirkan Xu Xian.
Setiap malam ia
duduk di depan gua, memandangi langit yang dipenuhi bintang.
"Aku tidak
tahu apakah kau membenciku sekarang," bisiknya. "Tetapi aku berharap
suatu hari nanti kau mengetahui bahwa semua yang kulakukan berasal dari
cinta."
Sementara itu, di
Kuil Gunung Emas, Xu Xian hidup sebagai seorang biksu.
Namun ketenangan
yang dijanjikan Fa Hai tidak pernah benar-benar ia rasakan.
Setiap kali
menutup mata, yang terbayang bukanlah wujud ular raksasa, melainkan senyum Bai
Suzhen saat mereka pertama kali bertemu di Danau Barat.
Ia teringat
bagaimana istrinya merawat orang-orang miskin tanpa meminta bayaran, bagaimana
ia selalu tersenyum saat menyambutnya pulang, dan bagaimana ia rela
mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.
Semakin lama, Xu
Xian mulai bertanya kepada dirinya sendiri.
"Jika Bai
Suzhen benar-benar jahat... mengapa ia selalu memilih menolong orang
lain?"
Suatu malam, ia
memberanikan diri bertanya kepada Fa Hai.
"Guru...
apakah semua siluman pasti jahat?"
Fa Hai terdiam
beberapa saat.
"Ada yang
berbuat baik. Ada pula yang berbuat jahat."
"Lalu mengapa
Bai Suzhen harus dipisahkan dariku?"
Fa Hai menatap
muridnya dengan serius.
"Karena hukum
langit tidak mengizinkan manusia dan siluman hidup sebagai suami istri. Cepat
atau lambat, keseimbangan dunia akan terganggu."
Meski mendengar
jawaban itu, hati Xu Xian masih dipenuhi keraguan.
Beberapa bulan
kemudian, tibalah saat yang dinantikan.
Di sebuah malam
yang tenang, Bai Suzhen melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Tangisan bayi itu
menggema memenuhi lembah.
Air mata
kebahagiaan mengalir di wajah Bai Suzhen saat ia menggendong putranya untuk
pertama kali.
"Aku akan
menamakanmu Xu Mengjiao," katanya lembut.
Xiao Qing
tersenyum bahagia.
"Dia sangat
mirip ayahnya."
Untuk beberapa
waktu, Bai Suzhen akhirnya merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Meski
hidup sederhana di tengah pegunungan, ia menikmati setiap hari bersama
putranya.
Namun kebahagiaan
itu tidak berlangsung lama.
Fa Hai akhirnya
mengetahui tempat persembunyian mereka.
Suatu pagi, langit
tiba-tiba berubah mendung.
Angin bertiup
sangat kencang.
Xiao Qing yang
sedang mencari kayu bakar merasakan aura yang sangat dikenalnya.
"Fa
Hai..."
Ia segera berlari
kembali ke gua.
"Bai Suzhen!
Kita harus pergi sekarang!"
Belum sempat
mereka melarikan diri, puluhan biksu telah mengepung lembah dari segala arah.
Di tengah mereka
berdiri Fa Hai dengan tongkat sucinya.
"Bai
Suzhen," katanya lantang. "Perjalananmu berakhir di sini."
Bai Suzhen memeluk
bayi kecilnya erat-erat.
"Apa yang
masih kau inginkan dariku?"
"Serahkan
dirimu."
"Aku hanya
ingin membesarkan anakku."
"Langit telah
menjatuhkan hukuman kepadamu."
Bai Suzhen menatap
putranya yang masih tertidur.
Ia tahu
kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Jika ia bertarung sekarang, bukan hanya
dirinya yang akan terluka, tetapi juga anaknya.
Xiao Qing berdiri
di depan Bai Suzhen.
"Aku akan
melawan mereka!"
Namun Bai Suzhen
menggeleng.
"Tidak."
Ia mengusap kepala
sahabatnya.
"Kalau kita
bertarung, banyak orang yang akan terluka lagi."
Lalu ia
menyerahkan bayi Xu Mengjiao kepada Xiao Qing.
"Tolong...
besarkan dia."
Xiao Qing langsung
menangis.
"Tidak! Kita
masih bisa melawan!"
Bai Suzhen
tersenyum tipis.
"Anak ini
masih membutuhkan seseorang."
"Tapi..."
"Berjanjilah."
Dengan mata
berkaca-kaca, Xiao Qing akhirnya mengangguk.
"Aku
berjanji."
Fa Hai kemudian
mengangkat mangkuk sucinya tinggi-tinggi.
Cahaya keemasan
turun dari langit, membentuk pusaran besar di atas kepala Bai Suzhen.
Tanah bergetar.
Langit bergemuruh.
Dari kejauhan
tampak Pagoda Leifeng, sebuah pagoda tua yang berdiri megah di tepi
Danau Barat.
Cahaya itu
perlahan menarik tubuh Bai Suzhen menuju pagoda.
Ia tidak melawan.
Sebelum
menghilang, ia memandang putranya untuk terakhir kali.
"Jadilah anak
yang baik... Jangan pernah membenci siapa pun... bahkan mereka yang telah
memisahkan kita."
Air mata Xiao Qing
tak berhenti mengalir.
"Bai
Suzhen!"
Tubuh Bai Suzhen
akhirnya menghilang ke dalam Pagoda Leifeng.
Saat itu juga,
pondasi pagoda memancarkan cahaya terang.
Rantai-rantai gaib
muncul dari tanah, mengikat kekuatan Bai Suzhen dan menyegelnya jauh di bawah
bangunan itu.
Sejak hari itu,
Bai Suzhen hidup terkurung di bawah Pagoda Leifeng, tidak dapat melihat langit,
tidak dapat memeluk putranya, dan tidak dapat bertemu kembali dengan Xu Xian.
Xu Mengjiao
kemudian dibesarkan oleh Xiao Qing secara diam-diam.
Ia tumbuh menjadi
anak yang cerdas, rajin belajar, dan memiliki hati yang lembut, tanpa
mengetahui bahwa ibunya masih hidup... terpenjara di bawah sebuah pagoda tua.
Sementara itu,
setiap kali melewati Danau Barat, Xu Xian selalu memandang ke arah Pagoda
Leifeng dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Jauh di dalam
hatinya, ia merasa seseorang yang sangat dicintainya sedang menunggunya di
sana.
0 comments:
Post a Comment