Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 5

 

Bagian 5: Kelahiran Putra Bai Suzhen dan Hukuman di Pagoda Leifeng

Setelah gagal menyelamatkan Xu Xian dari Kuil Gunung Emas, Bai Suzhen dan Xiao Qing melarikan diri ke sebuah lembah terpencil yang jauh dari Hangzhou. Pertempuran dahsyat melawan Fa Hai telah menguras hampir seluruh kekuatan gaib Bai Suzhen. Tubuhnya yang lemah semakin terbebani karena ia sedang mengandung.

Hari-hari berikutnya dilalui dengan penuh kesunyian. Xiao Qing merawat sahabatnya tanpa kenal lelah. Ia mencari tanaman obat, memasak makanan, dan menjaga gua tempat mereka bersembunyi agar tidak ditemukan oleh para pemburu siluman.

Meski tubuhnya semakin lemah, Bai Suzhen tidak pernah berhenti memikirkan Xu Xian.

Setiap malam ia duduk di depan gua, memandangi langit yang dipenuhi bintang.

"Aku tidak tahu apakah kau membenciku sekarang," bisiknya. "Tetapi aku berharap suatu hari nanti kau mengetahui bahwa semua yang kulakukan berasal dari cinta."


Sementara itu, di Kuil Gunung Emas, Xu Xian hidup sebagai seorang biksu.

Namun ketenangan yang dijanjikan Fa Hai tidak pernah benar-benar ia rasakan.

Setiap kali menutup mata, yang terbayang bukanlah wujud ular raksasa, melainkan senyum Bai Suzhen saat mereka pertama kali bertemu di Danau Barat.

Ia teringat bagaimana istrinya merawat orang-orang miskin tanpa meminta bayaran, bagaimana ia selalu tersenyum saat menyambutnya pulang, dan bagaimana ia rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkannya.

Semakin lama, Xu Xian mulai bertanya kepada dirinya sendiri.

"Jika Bai Suzhen benar-benar jahat... mengapa ia selalu memilih menolong orang lain?"

Suatu malam, ia memberanikan diri bertanya kepada Fa Hai.

"Guru... apakah semua siluman pasti jahat?"

Fa Hai terdiam beberapa saat.

"Ada yang berbuat baik. Ada pula yang berbuat jahat."

"Lalu mengapa Bai Suzhen harus dipisahkan dariku?"

Fa Hai menatap muridnya dengan serius.

"Karena hukum langit tidak mengizinkan manusia dan siluman hidup sebagai suami istri. Cepat atau lambat, keseimbangan dunia akan terganggu."

Meski mendengar jawaban itu, hati Xu Xian masih dipenuhi keraguan.


Beberapa bulan kemudian, tibalah saat yang dinantikan.

Di sebuah malam yang tenang, Bai Suzhen melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.

Tangisan bayi itu menggema memenuhi lembah.

Air mata kebahagiaan mengalir di wajah Bai Suzhen saat ia menggendong putranya untuk pertama kali.

"Aku akan menamakanmu Xu Mengjiao," katanya lembut.

Xiao Qing tersenyum bahagia.

"Dia sangat mirip ayahnya."

Untuk beberapa waktu, Bai Suzhen akhirnya merasakan kebahagiaan yang telah lama hilang. Meski hidup sederhana di tengah pegunungan, ia menikmati setiap hari bersama putranya.

Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Fa Hai akhirnya mengetahui tempat persembunyian mereka.


Suatu pagi, langit tiba-tiba berubah mendung.

Angin bertiup sangat kencang.

Xiao Qing yang sedang mencari kayu bakar merasakan aura yang sangat dikenalnya.

"Fa Hai..."

Ia segera berlari kembali ke gua.

"Bai Suzhen! Kita harus pergi sekarang!"

Belum sempat mereka melarikan diri, puluhan biksu telah mengepung lembah dari segala arah.

Di tengah mereka berdiri Fa Hai dengan tongkat sucinya.

"Bai Suzhen," katanya lantang. "Perjalananmu berakhir di sini."

Bai Suzhen memeluk bayi kecilnya erat-erat.

"Apa yang masih kau inginkan dariku?"

"Serahkan dirimu."

"Aku hanya ingin membesarkan anakku."

"Langit telah menjatuhkan hukuman kepadamu."

Bai Suzhen menatap putranya yang masih tertidur.

Ia tahu kekuatannya belum pulih sepenuhnya. Jika ia bertarung sekarang, bukan hanya dirinya yang akan terluka, tetapi juga anaknya.

Xiao Qing berdiri di depan Bai Suzhen.

"Aku akan melawan mereka!"

Namun Bai Suzhen menggeleng.

"Tidak."

Ia mengusap kepala sahabatnya.

"Kalau kita bertarung, banyak orang yang akan terluka lagi."

Lalu ia menyerahkan bayi Xu Mengjiao kepada Xiao Qing.

"Tolong... besarkan dia."

Xiao Qing langsung menangis.

"Tidak! Kita masih bisa melawan!"

Bai Suzhen tersenyum tipis.

"Anak ini masih membutuhkan seseorang."

"Tapi..."

"Berjanjilah."

Dengan mata berkaca-kaca, Xiao Qing akhirnya mengangguk.

"Aku berjanji."


Fa Hai kemudian mengangkat mangkuk sucinya tinggi-tinggi.

Cahaya keemasan turun dari langit, membentuk pusaran besar di atas kepala Bai Suzhen.

Tanah bergetar.

Langit bergemuruh.

Dari kejauhan tampak Pagoda Leifeng, sebuah pagoda tua yang berdiri megah di tepi Danau Barat.

Cahaya itu perlahan menarik tubuh Bai Suzhen menuju pagoda.

Ia tidak melawan.

Sebelum menghilang, ia memandang putranya untuk terakhir kali.

"Jadilah anak yang baik... Jangan pernah membenci siapa pun... bahkan mereka yang telah memisahkan kita."

Air mata Xiao Qing tak berhenti mengalir.

"Bai Suzhen!"

Tubuh Bai Suzhen akhirnya menghilang ke dalam Pagoda Leifeng.

Saat itu juga, pondasi pagoda memancarkan cahaya terang.

Rantai-rantai gaib muncul dari tanah, mengikat kekuatan Bai Suzhen dan menyegelnya jauh di bawah bangunan itu.

Sejak hari itu, Bai Suzhen hidup terkurung di bawah Pagoda Leifeng, tidak dapat melihat langit, tidak dapat memeluk putranya, dan tidak dapat bertemu kembali dengan Xu Xian.

Xu Mengjiao kemudian dibesarkan oleh Xiao Qing secara diam-diam.

Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, rajin belajar, dan memiliki hati yang lembut, tanpa mengetahui bahwa ibunya masih hidup... terpenjara di bawah sebuah pagoda tua.

Sementara itu, setiap kali melewati Danau Barat, Xu Xian selalu memandang ke arah Pagoda Leifeng dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Jauh di dalam hatinya, ia merasa seseorang yang sangat dicintainya sedang menunggunya di sana.


 Bersambung...*

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design