Kereta keluarga Noctis berhenti tepat di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Lambang keluarga Noctis terukir megah di tengahnya.
Seekor burung malam dengan sayap terbuka, dikelilingi ukiran bunga yang tampak seperti anggrek.
Elena Aveline turun perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat kediaman keluarga yang kini akan menjadi rumahnya.
Mansion Noctis.
Bangunan itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi taman luas dan pepohonan tua.
Dinding batu gelap.
Pilar tinggi.
Jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya matahari.
Semuanya terlihat sempurna.
Namun...
ada sesuatu yang terasa berbeda.
Tempat ini indah.
Tapi terlalu sunyi.
Seolah mansion ini bukan rumah yang dihuni.
Melainkan tempat yang hanya dijaga agar tetap berdiri.
"Selamat datang, Yang Mulia Duchess."
Seorang kepala pelayan membungkuk.
Elena sedikit terkejut mendengar panggilan itu.
Duchess.
Gelar itu masih terasa asing.
"Aku belum terbiasa dipanggil seperti itu."
Kepala pelayan tersenyum tipis.
"Nanti Anda akan terbiasa, Nyonya."
Elena mengangguk.
Namun sebelum masuk...
matanya tertarik pada sesuatu di sisi timur mansion.
Sebuah bangunan berkubah kaca.
Terpisah dari taman utama.
Rumah kaca.
Berbeda dengan taman lainnya yang terawat sempurna...
rumah kaca itu tampak seperti bagian yang terlupakan dari mansion.
Kaca-kacanya kusam.
Sebagian retak.
Tanaman rambat liar menutupi dinding luarnya.
Pintu kayunya terlihat tua.
Seolah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
Elena berhenti berjalan.
Entah kenapa...
dadanya terasa sesak melihatnya.
Bukan karena tempat itu buruk.
Justru sebaliknya.
Ia bisa merasakan sesuatu.
Sebuah kehidupan yang tertidur.
"Lady Elena."
Suara Adrian membuatnya menoleh.
Duke itu berdiri beberapa langkah darinya.
Tatapan matanya mengikuti arah pandang Elena.
Ke rumah kaca.
Untuk sesaat...
ekspresinya berubah.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat Elena menyadarinya.
"Kau tertarik dengan tempat itu?"
Elena menatap bangunan tua tersebut.
"Ya."
Jawaban jujurnya membuat Adrian diam.
"Lupakan tempat itu."
Nada suaranya tenang.
Tapi tegas.
Elena mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Itu bukan tempat yang perlu kau datangi."
"Padahal saya akan tinggal di sini."
"Kau tinggal di mansion ini."
Adrian menatap rumah kaca itu.
"Bukan di sana."
Ada sesuatu dalam suaranya.
Sesuatu yang membuat Elena berhenti bertanya.
Untuk sekarang.
Malam pertama Elena di mansion Noctis terasa aneh.
Kamar yang diberikan kepadanya jauh lebih besar daripada seluruh rumah lamanya.
Namun kemewahan itu tidak membuatnya nyaman.
Ia justru merasa...
ada sesuatu yang hilang.
Seseorang.
Atau mungkin...
sebuah cerita yang belum selesai.
Elena berjalan menuju jendela.
Dari sana, ia bisa melihat rumah kaca tua itu.
Di bawah cahaya bulan, bangunan itu terlihat semakin misterius.
Dan kemudian...
ia melihat sesuatu.
Sebuah cahaya kecil.
Berkedip dari dalam.
Elena menyipitkan mata.
Mustahil.
Rumah kaca itu seharusnya kosong.
Keesokan paginya, Elena memutuskan berjalan-jalan di taman.
Ia mencoba menghafal jalan di sekitar mansion.
Namun langkahnya tanpa sadar membawanya kembali ke tempat yang sama.
Rumah kaca.
Tangannya menyentuh gagang pintu.
Dingin.
Berkarat.
Ia ragu sebentar.
Mengingat peringatan Adrian.
Namun rasa penasarannya lebih kuat.
Perlahan...
ia membuka pintu.
Berderit.
Udara lembap menyambutnya.
Di dalam, aroma tanah dan tanaman tua memenuhi ruangan.
Rak-rak kayu berdiri kosong.
Pot-pot bunga pecah berserakan.
Sebagian tanaman mengering.
Sebagian lainnya hanya menyisakan batang.
Elena berjalan perlahan.
Matanya mengamati setiap sudut.
"Bukan mati karena usia..."
Bisiknya.
Ia berjongkok di depan sebuah tanaman kecil.
Sebuah anggrek.
Daunnya menguning.
Akarnya rusak.
Tapi masih hidup.
Elena tersenyum kecil.
"Masih bisa diselamatkan."
Tangannya menyentuh daun itu dengan hati-hati.
Seolah tanaman tersebut sedang meminta pertolongan.
Tanpa ia sadari...
seseorang berdiri di balik pintu.
Adrian Noctis.
Ia seharusnya marah.
Elena memasuki tempat yang sudah ia larang.
Namun...
ia tidak bergerak.
Karena selama bertahun-tahun...
tidak ada seorang pun yang melihat rumah kaca itu seperti Elena melihatnya.
Bukan sebagai tempat terkutuk.
Bukan sebagai kenangan yang menyakitkan.
Tapi sebagai sesuatu yang masih memiliki harapan.
"Yang Mulia."
Suara kepala pelayan terdengar dari belakang.
"Perlu saya meminta Duchess keluar?"
Adrian tetap diam.
Tatapannya tertuju pada Elena.
Wanita itu kini membersihkan daun kering dengan lembut.
"Jangan."
Kepala pelayan terkejut.
"Tapi tempat itu-"
"Biarkan dia."
Adrian menatap anggrek yang hampir mati di tangan Elena.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun...
rumah kaca yang terlupakan itu memiliki seseorang yang ingin menyelamatkannya.
Dan Adrian tidak tahu kenapa...
ia tidak ingin menghentikannya.
Bersambung...
Comments
Post a Comment