Tuesday, July 21, 2026

Legenda Ular Putih Bagian 3

Bagian 3: Bai Suzhen Mencari Ramuan Keabadian

Xu Xian terbaring tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Wajahnya pucat, napasnya sangat lemah. Para tabib terbaik di Hangzhou telah dipanggil, tetapi tidak seorang pun mampu menjelaskan apa yang terjadi.

Sebagian mengatakan bahwa Xu Xian mengalami demam yang sangat berat. Ada pula yang mengira ia terkena penyakit misterius. Namun, Bai Suzhen tahu penyebab sebenarnya.

Suaminya bukan sakit karena racun atau penyakit.

Ia jatuh pingsan akibat ketakutan setelah melihat wujud asli istrinya.

Sejak hari itu, Bai Suzhen tidak pernah meninggalkan sisi Xu Xian. Ia terus menggenggam tangan suaminya sambil berharap laki-laki yang dicintainya segera membuka mata.

"Aku rela kehilangan seluruh kekuatanku... asalkan kau bisa hidup kembali," bisiknya dengan air mata yang terus mengalir.

Xiao Qing berdiri di dekat pintu. Melihat sahabatnya begitu bersedih, hatinya ikut terluka.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"

Bai Suzhen terdiam cukup lama.

Kemudian ia berkata dengan suara pelan,

"Aku pernah mendengar tentang Ramuan Keabadian, ramuan langka yang tumbuh di puncak Gunung Kunlun. Konon, ramuan itu mampu menghidupkan kembali orang yang hampir kehilangan nyawanya."

Xiao Qing terkejut.

"Itu hanya legenda! Gunung Kunlun dijaga oleh para dewa dan makhluk langit. Tidak ada manusia ataupun siluman yang bisa mengambilnya dengan mudah."

Bai Suzhen mengangguk.

"Aku tahu. Tapi aku harus mencobanya."


Malam itu juga, Bai Suzhen berangkat seorang diri. Ia menembus hutan lebat, menyeberangi sungai yang deras, dan mendaki gunung-gunung tinggi. Perjalanan itu sangat panjang. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.

Semakin dekat dengan Gunung Kunlun, udara menjadi semakin dingin. Angin bertiup begitu kencang hingga mampu merobohkan pepohonan.

Namun Bai Suzhen tidak berhenti.

Di tengah perjalanan, ia bertemu seekor bangau putih tua yang ternyata merupakan penjaga gunung.

"Hendak ke mana kau, wahai siluman ular?" tanya bangau itu.

"Aku ingin mencari Ramuan Keabadian."

"Apa kau tahu risikonya?"

"Aku tahu."

"Ramuan itu dijaga para dewa. Banyak siluman yang datang karena ingin hidup abadi atau memperoleh kekuatan yang lebih besar. Tidak ada satu pun yang berhasil."

Bai Suzhen menundukkan kepala.

"Aku tidak menginginkannya untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelamatkan suamiku."

Bangau tua memandangnya cukup lama.

Ia dapat merasakan ketulusan hati Bai Suzhen.

Akhirnya bangau itu berkata,

"Kalau begitu, teruslah berjalan. Tetapi ingat, jalan di depan jauh lebih berat daripada yang kau bayangkan."


Beberapa hari kemudian, Bai Suzhen tiba di kaki Gunung Kunlun.

Gunung itu menjulang tinggi hingga puncaknya tertutup awan putih. Tebing-tebing curam dipenuhi salju abadi, sementara angin dingin bertiup tanpa henti.

Saat ia mulai mendaki, tiba-tiba kabut tebal turun menutupi seluruh jalan.

Dari balik kabut terdengar suara menggelegar.

"Siapa yang berani memasuki wilayah para dewa?"

Tiga penjaga langit muncul dengan mengenakan baju zirah berkilau. Masing-masing membawa tombak emas.

Bai Suzhen segera memberi hormat.

"Aku datang bukan untuk berperang."

"Sebutkan tujuanmu."

"Aku ingin memohon setangkai Ramuan Keabadian."

Para penjaga saling berpandangan.

"Semuanya datang dengan alasan yang sama. Tidak ada yang boleh mengambil ramuan itu."

Bai Suzhen berlutut.

"Aku rela menerima hukuman apa pun. Aku hanya ingin menyelamatkan suamiku."

Penjaga pertama menggeleng.

"Tidak."

Penjaga kedua berkata tegas,

"Kembalilah."

Namun penjaga ketiga melihat air mata yang mengalir di wajah Bai Suzhen.

"Apa manusia itu mengetahui siapa dirimu sebenarnya?"

Bai Suzhen menjawab lirih,

"Ia sudah tahu... tetapi aku tetap ingin menyelamatkannya."

Jawaban itu membuat ketiga penjaga terdiam.

Meski demikian, aturan langit tidak dapat dilanggar.

Mereka tetap menolak permintaannya.

Melihat tidak ada harapan, Bai Suzhen akhirnya menggunakan seluruh kekuatan gaibnya. Tubuhnya diselimuti cahaya putih yang sangat terang, lalu ia berubah menjadi ular putih raksasa.

Pertarungan pun tidak dapat dihindari.

Kilatan cahaya memenuhi langit. Angin berputar kencang. Tebing-tebing berguncang akibat benturan kekuatan para penjaga langit dan Bai Suzhen.

Meski terluka berkali-kali, Bai Suzhen terus bertahan.

Bukan karena ingin menang.

Melainkan karena ia tidak ingin kehilangan orang yang paling dicintainya.

Melihat tekadnya yang begitu besar, seorang dewa tua akhirnya turun dari langit.

"Cukup!"

Suara sang dewa menggema ke seluruh pegunungan.

Semua penjaga segera menghentikan serangan mereka.

Sang dewa menatap Bai Suzhen yang telah dipenuhi luka.

"Belum pernah kulihat seekor siluman mempertaruhkan nyawanya demi seorang manusia."

Bai Suzhen menundukkan kepala.

"Cinta tidak mengenal perbedaan antara manusia, siluman, ataupun dewa."

Sang dewa tersenyum tipis.

"Karena ketulusanmu, aku akan memberikan satu helai Ramuan Keabadian. Tetapi ingat, setiap pilihan memiliki harga."

Bai Suzhen menerima ramuan itu dengan kedua tangan sambil mengucapkan terima kasih berulang kali.

Tanpa membuang waktu, ia segera kembali menuju Hangzhou.

Ia tidak mengetahui bahwa selama dirinya pergi, Biksu Fa Hai telah mendatangi Xu Xian dan membujuknya agar meninggalkan Bai Suzhen untuk selamanya.

Perjalanan pulang yang dipenuhi harapan itu ternyata akan membawanya pada cobaan yang jauh lebih besar.



Bersambung...*

0 comments:

Post a Comment

 

Blognya Alviana Anugrah Template by Ipietoon Cute Blog Design