Bagian 3: Bai Suzhen Mencari Ramuan Keabadian
Xu Xian terbaring
tak sadarkan diri di tempat tidurnya. Wajahnya pucat, napasnya sangat lemah.
Para tabib terbaik di Hangzhou telah dipanggil, tetapi tidak seorang pun mampu
menjelaskan apa yang terjadi.
Sebagian
mengatakan bahwa Xu Xian mengalami demam yang sangat berat. Ada pula yang
mengira ia terkena penyakit misterius. Namun, Bai Suzhen tahu penyebab
sebenarnya.
Suaminya bukan
sakit karena racun atau penyakit.
Ia jatuh pingsan
akibat ketakutan setelah melihat wujud asli istrinya.
Sejak hari itu,
Bai Suzhen tidak pernah meninggalkan sisi Xu Xian. Ia terus menggenggam tangan
suaminya sambil berharap laki-laki yang dicintainya segera membuka mata.
"Aku rela
kehilangan seluruh kekuatanku... asalkan kau bisa hidup kembali," bisiknya
dengan air mata yang terus mengalir.
Xiao Qing berdiri
di dekat pintu. Melihat sahabatnya begitu bersedih, hatinya ikut terluka.
"Apa yang
akan kita lakukan sekarang?"
Bai Suzhen terdiam
cukup lama.
Kemudian ia
berkata dengan suara pelan,
"Aku pernah
mendengar tentang Ramuan Keabadian, ramuan langka yang tumbuh di puncak
Gunung Kunlun. Konon, ramuan itu mampu menghidupkan kembali orang yang hampir
kehilangan nyawanya."
Xiao Qing
terkejut.
"Itu hanya
legenda! Gunung Kunlun dijaga oleh para dewa dan makhluk langit. Tidak ada
manusia ataupun siluman yang bisa mengambilnya dengan mudah."
Bai Suzhen
mengangguk.
"Aku tahu.
Tapi aku harus mencobanya."
Malam itu juga,
Bai Suzhen berangkat seorang diri. Ia menembus hutan lebat, menyeberangi sungai
yang deras, dan mendaki gunung-gunung tinggi. Perjalanan itu sangat panjang.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Semakin dekat
dengan Gunung Kunlun, udara menjadi semakin dingin. Angin bertiup begitu
kencang hingga mampu merobohkan pepohonan.
Namun Bai Suzhen
tidak berhenti.
Di tengah
perjalanan, ia bertemu seekor bangau putih tua yang ternyata merupakan penjaga
gunung.
"Hendak ke
mana kau, wahai siluman ular?" tanya bangau itu.
"Aku ingin
mencari Ramuan Keabadian."
"Apa kau tahu
risikonya?"
"Aku
tahu."
"Ramuan itu
dijaga para dewa. Banyak siluman yang datang karena ingin hidup abadi atau
memperoleh kekuatan yang lebih besar. Tidak ada satu pun yang berhasil."
Bai Suzhen
menundukkan kepala.
"Aku tidak
menginginkannya untuk diriku sendiri. Aku hanya ingin menyelamatkan
suamiku."
Bangau tua
memandangnya cukup lama.
Ia dapat merasakan
ketulusan hati Bai Suzhen.
Akhirnya bangau
itu berkata,
"Kalau
begitu, teruslah berjalan. Tetapi ingat, jalan di depan jauh lebih berat
daripada yang kau bayangkan."
Beberapa hari
kemudian, Bai Suzhen tiba di kaki Gunung Kunlun.
Gunung itu
menjulang tinggi hingga puncaknya tertutup awan putih. Tebing-tebing curam
dipenuhi salju abadi, sementara angin dingin bertiup tanpa henti.
Saat ia mulai
mendaki, tiba-tiba kabut tebal turun menutupi seluruh jalan.
Dari balik kabut
terdengar suara menggelegar.
"Siapa yang
berani memasuki wilayah para dewa?"
Tiga penjaga
langit muncul dengan mengenakan baju zirah berkilau. Masing-masing membawa
tombak emas.
Bai Suzhen segera
memberi hormat.
"Aku datang
bukan untuk berperang."
"Sebutkan
tujuanmu."
"Aku ingin
memohon setangkai Ramuan Keabadian."
Para penjaga
saling berpandangan.
"Semuanya
datang dengan alasan yang sama. Tidak ada yang boleh mengambil ramuan
itu."
Bai Suzhen
berlutut.
"Aku rela
menerima hukuman apa pun. Aku hanya ingin menyelamatkan suamiku."
Penjaga pertama
menggeleng.
"Tidak."
Penjaga kedua
berkata tegas,
"Kembalilah."
Namun penjaga
ketiga melihat air mata yang mengalir di wajah Bai Suzhen.
"Apa manusia
itu mengetahui siapa dirimu sebenarnya?"
Bai Suzhen
menjawab lirih,
"Ia sudah
tahu... tetapi aku tetap ingin menyelamatkannya."
Jawaban itu
membuat ketiga penjaga terdiam.
Meski demikian,
aturan langit tidak dapat dilanggar.
Mereka tetap
menolak permintaannya.
Melihat tidak ada
harapan, Bai Suzhen akhirnya menggunakan seluruh kekuatan gaibnya. Tubuhnya
diselimuti cahaya putih yang sangat terang, lalu ia berubah menjadi ular putih
raksasa.
Pertarungan pun
tidak dapat dihindari.
Kilatan cahaya
memenuhi langit. Angin berputar kencang. Tebing-tebing berguncang akibat
benturan kekuatan para penjaga langit dan Bai Suzhen.
Meski terluka
berkali-kali, Bai Suzhen terus bertahan.
Bukan karena ingin
menang.
Melainkan karena
ia tidak ingin kehilangan orang yang paling dicintainya.
Melihat tekadnya
yang begitu besar, seorang dewa tua akhirnya turun dari langit.
"Cukup!"
Suara sang dewa
menggema ke seluruh pegunungan.
Semua penjaga
segera menghentikan serangan mereka.
Sang dewa menatap
Bai Suzhen yang telah dipenuhi luka.
"Belum pernah
kulihat seekor siluman mempertaruhkan nyawanya demi seorang manusia."
Bai Suzhen
menundukkan kepala.
"Cinta tidak
mengenal perbedaan antara manusia, siluman, ataupun dewa."
Sang dewa
tersenyum tipis.
"Karena
ketulusanmu, aku akan memberikan satu helai Ramuan Keabadian. Tetapi ingat,
setiap pilihan memiliki harga."
Bai Suzhen
menerima ramuan itu dengan kedua tangan sambil mengucapkan terima kasih
berulang kali.
Tanpa membuang
waktu, ia segera kembali menuju Hangzhou.
Ia tidak
mengetahui bahwa selama dirinya pergi, Biksu Fa Hai telah mendatangi Xu Xian
dan membujuknya agar meninggalkan Bai Suzhen untuk selamanya.
Perjalanan pulang
yang dipenuhi harapan itu ternyata akan membawanya pada cobaan yang jauh lebih
besar.
0 comments:
Post a Comment