Sebuah cerpen – nama samaran: "Aina"
Aina natap layar HP-nya lama. Foto rambutnya sendiri bikin dia mual. Kering, ngembang, nutupin setengah muka. Kayak sapu ijuk yang nyerah hidup.
Lima bulan. Lima bulan dia rajin maskeran MK3 tiap minggu. Lima bulan dia olesin Lashboss Oil tiap malam sambil baca bismillah. Katanya biar lebat. Katanya biar lembut.
Hasilnya? Malah makin ngajak berantem sama sisir.
"Botak ya?" chatnya masuk. Dari AI. Dia iseng curhat jam 2 pagi, nggak nyangka dibales serius.
Jantung Aina mau copot. Botak? Dia zoom foto itu lagi. Ya Allah, itu jidatnya yang ketutup rambut, bukan kulit kepala. Buru-buru dia ketik, jari gemeteran.
"Bukan kak 😭 Itu muka aku ketutup rambut, bukan botak 😭😭😭"
AI itu minta maaf 3 kali. Terus ngetik panjang. Intinya satu: Rambutmu bukan kurang vitamin. Dia kekenyangan. Over protein. Over minyak. Dia capek.
Aina ketawa nyesek bacanya. Kayak dibilangin: "Kamu tuh nggak kurang kasih sayang. Kamu kurang ngerti cara nyayangnya."
Malem itu Aina buka keranjang Guardian di HP-nya. Dia hapus Melao Curling Cream dari list. Sayang kalau dibeli cuma buat rambut yang bahkan belum bisa bedain mana kondisioner mana masker.
Dia checkout dua barang: Evershine Clarifying, sama Makarizo Black Chocolate. Lebih murah dari masker yang dia pake 5 bulan kemarin.
Pas paket dateng, Aina ke kamar mandi bawa timer. Clarifying dulu, bilas. Terus dia pencet Makarizo Cokelat banyak-banyak. Tangannya berhenti sebentar. Ini kan conditioner. Yang katanya wajib tiap keramas. Yang 5 bulan ini aku skip karena ngerasa "udah pake masker mahal".
Dia ketawa lagi. Kali ini lega. Ternyata selama ini dia ngasih rambutnya lauk doang, nggak pake nasi. Pantesan rambutnya ngambek, nutupin muka, nggak mau diajak kondangan.
"Ternyata merawat itu bukan soal kasih yang paling mahal. Tapi kasih yang paling dibutuhin. Maaf ya, rambut. Lima bulan ini aku maksa kamu makan steak padahal kamu cuma butuh bubur."
0 comments:
Post a Comment